Retno juga menyampaikan poin penting soal membangun paradigma positif tentang kompetisi di Indo-Pasifik yang tentunya penting demi kemajuan bersama, yang sedianya tidak menjadi konflik terbuka. Indonesia ingin mengubah interaksi antar negara dari kemenangan satu pihak atas kekalahan pihak lain, menjadi hubungan yang saling menguntungkan; dari rivalitas menjadi dialog dan kerjasama; dari kurangnya kepercayaan menjadi kepercayaan strategis. Retno yakin perubahan paradigma tersebut akan berdampak besar terhadap masa depan Indo-Pasifik dan dunia.
Poin lain menurut Retno adalah pentingnya mendorong sinergi antara berbagai inisiatif di Indo-Pasifik. Masing-masing negara memiliki cara pandang berbeda terhadap Indo-Pasifik tapi ada kepentingan yang sama bagi semua negara di kawasan untuk mendorong stabilitas dan menanggulangi berbagai tantangan yang dihadapi.
Selain isu keamanan, kerjasama kongkret yang harus didorong adalah dalam sektor maritim, transisi energi berkelanjutan dan ramah lingkungan, perdagangan dan investasi, konektivitas serta implementasi tujuan pembangunan berkesinambungan. Hal ini akan memperkuat kemitraan, membangun kepercayaan sekaligus mengurangi risiko keamanan.
Pengamat Keamanan Internasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nanto Sriyanto menjelaskan Indo-Pasifik wacananya tidak melulu soal keamanan dan politik keamanan namun juga harus membahas pembangunan, infrastruktur dan ekonomi.
Dia menambahkan keterlibatan Prancis dalam Indo-Pasifik seharusnya bisa membuka wacana bahwa kawasan ini terbuka untuk banyak aktor. Khusus bagi Prancis, negara ini memiliki kepentingan di Indo-Pasifik karena sejumlah wilayahnya berada di kawasan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.