Pertemuan yang digagas Prancis dan Indonesia tersebut dalam konteks bilateral bukan hanya isu militer tapi penekanannya juga pada berbagai isu seperti “Bali Process” yang berfokus pada kejahatan transnasional dan perdagangan manusia, serta perdagangan yang adil.
Nanto berharap Prancis memandang Indonesia sebagai mitra strategis di Indo-Pasifik dan kehadiran Prancis di kawasan tersebut dapat berkontribusi positif dan tidak mengerucut pada bipolarisme baru, tapi pada multilateralisme.
"Prancis adalah kekuatan yang bisa memberikan pilihan karena perseteruan di Indo Pasifik ini yang seolah-olah hanya antara Beijing dan Washington DC harus dibuka lebih ;luas lagi, bahwa ada pilihan-pilihan lain yang kemudian muaranya adalah menguatnya multilateralisme," ujarnya.
Menurut Nanto, makin akrabnya hubungan Indonesia-Prancis nantinya akan makin menguatkan industri pertahanan dalam negeri karena kedua negara pernah bekerjasama dalam proyek helikopter Super Puma. Selain industri strategis ini, Indonesia juga membutuhkan dukungan Prancis dalam hal produksi vaksin Covid-19 di Indonesia.