4 Kerajaan di Indonesia yang Paling Lama Berkuasa, Ini Daftarnya

Tim Litbang MPI, Jurnalis
Senin 28 Februari 2022 05:06 WIB
Berikut kerajaan di Indonesia yang paling lama berkuasa. (Ist)
Share :

JEJAK kerajaan di Indonesia dapat ditelusuri mulai dari abad ke-4. Pada abad ini, sebuah kerajaan telah berdiri di daerah Kalimantan dan disebut sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Sejak itu, berbagai kerajaan hadir di berbagai wilayah Nusantara. Beberapa di antaranya berkuasa dalam waktu cukup lama. Berikut daftar kerajaan di Indonesia yang paling lama berkuasa :

1. Kerajaan Kutai 

Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan Hindu tertua yang ada di Indonesia. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-4 Masehi. Namun ada pula yang menyebut kerajaan ini berdiri pada abad ke-5 Masehi. Lokasi kerajaan ini di Muara Kaman, di daerah aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Berdirinya kerajaan ini dipengaruhi oleh kebudayaan India, terutama saat kebudayaan Hindu datang ke Nusantara.

Awalnya kerajaan ini merupakan kelompok masyarakat yang berbentuk suku. Namun kedatangan Hindu membuat perubahan pada sistem pemerintahannya. Hal ini terlihat dalam Prasasti Yupa, yakni monumen batu yang memuat tulisan dengan bahasa Sansekerta. Dalam prasasti itu, disebutkan bahwa raja pertama Kutai yaitu Kudungga. Waktu itu ia belum memeluk agama Hindu dan kekuasaannya masih sebatas suku. Namun ketika pengaruh Hindu masuk, ia mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya sebagai raja.

Masa keemasan Kerajaan Kutai saat diperintah Raja Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang berbudi pekerti yang baik dan kuat. Mulawarman merupakan keturunan dari Aswawarman, anak Kudungga. Pada masa pemerintahannya juga, kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai Martapura semakin berkembang pesat karena pertanian dan perdagangan. Kerajaan Kutai memiliki jalur perdagangan karena letaknya di aliran sungai.

Pemerintahan Kerajaan Kutai Martapura berakhir ketika Raja Dharma Setia dikalahkan oleh Aji Pangeran Anum Panji Mendapa dari Kerajaan Kutai Kertanegara yang menganut agama Islam pada tahun 1635.

2. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang berkuasa pada 732-760 Masehi. Kerajaan ini diperintah oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Kehidupan sosial di Mataram Kuno tidak terlalu menerapkan sistem kasta. Dalam kehidupan ekonominya, kerajaan Mataram Kuno mengandalkan pertanian karena pusat pemerintahan terletak di pedalaman. Kegiatan perdagangan dimulai pada masa pemerintahan Dyah Balitung dengan didirikannya pusat-pusat kegiatan ekonomi. Dalam kebudayaan, kerajaan ini juga menghasilkan karya berupa candi Hindu dan candi Buddha.

Runtuhnya kerajaan ini karena adanya persaingan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dan Balaputradewa dari Dinasti Syailendra. Hal itu kemudian berkembang menjadi perseturuan turun-temurun antara Mataram Kuno dan Sriwijaya.

Pada 1016 ibu kota Mataram diserbu oleh pasukan Aji Wurawari dari Lwaram atau sekutu Sriwijaya sehingga istana Mataram Kuno hancur dan Dharmawangsa tewas. Ini menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Kuno. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan runtuhnya Mataram Kuno ialah karena letusan Gunung Merapi. Akibatnya, pemerintahan Mataram di Jawa Tengah pun lenyap, ibu kota kerajaan terkubur, dan terjadi pemindahan pusat kekuaaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

3. Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai pendirinya. Terletak di Palembang, Sumatera Selatan, kerajaan ini menganut agama Buddha. Pada prasasti Kedukan Bukit tercatat bahwa kerajaan ini didirikan pada tahun 682 Masehi. Nama Sriwijaya diambil dari bahasa Sansekerta dari kata ‘sri’ berarti cahaya dan ‘wijaya’ berarti kemenangan.

Masa kejayaan kerajaan ini terjadi pada pemerintahan Raja Balaputradewa, tahun 856 Masehi. Pengaruh kerajaan ini pada masa kepemimpinan Balaputradewa antara lain menguasai perdagangan di jalur utama Selat Malaka hingga ke Kamboja. Juga ke Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera dan sebagian pulau Jawa. Kerajaaan Sriwijaya pun mulai ekspansi ke utara untuk mengendalikan lalu lintas bahari yang keluar masuk selat, di samping juga menguasai penyeberangan darat melalui tanah genting Kra.

Keruntuhan Sriwijaya dimulai pada abad ke-11 karena ada kemunduran di berbagai bidang kehidupan, seperti ekonomi dan politik. Salah satu penyebabnya karena Kerajaan Sriwijaya mendapat serangan dari Dinasti Chola lantaran tingginya pajak yang dikenakan oleh Kerajaan Sriwijaya pada kapal-kapal pedagang di Selat Malaka. Dinasti Chola pun menyerbu kerajaan ini dua kali, pada 1017 dan 1025.

4. Kerajaan Majapahit

Awal pendirian Kerajaan Majapahit ialah saat Raden Wijaya lari karena adanya pemberontakan Jayakatwang pada tahun 1292. Saat pelariannya, ia membuka desa kecil di hutan Trowulan dan diberi nama desa Majapahit. Seiring waktu, desa itu terus berkembang dan Raden Wijaya melakukan pendekatan dengan penduduk dari Tumapel dan Daha.

Setelah mengalami peperangan dengan pasukan Khubilai Khan dan mengalahkan Jayakawang, Raden Wijaya menyerang kembali pasukan Khubilai Khan. Ia menyerang karena tidak mau tunduk dengan kekuasaan Kaisar Mongol. Ia pun akhirnya dinobatkan sebagai raja pada tahun 1293 dan mendirikan Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 masehi dan berakhir pada abad ke-16 Masehi.

Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar yang ada di Nusantara dengan cakupan wilayah yang luas. Kerajaan ini mencapai masa keemasannya pada pemerintahan Hayam Wuruk, dengan patihnya Gajah Mada. Hayam Wuruk berkuasa selama 1350 – 1389 Masehi. Ia berkuasa selama 39 tahun. Saat masa pemerintahannya pula wilayah Majapahit semakin luas, dibantu dengan adanya Sumpah Palapa dari Gajah Mada.

Wilayah Majapahit saat itu meliputi, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina.

Kerajaan Majapahit runtuh dikarenakan tidak adanya raja yang piawai dalam memimpin setelah kematian Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Bahkan di masa-masa setelah kepemimpinan Hayam Wuruk, sering terjadi perang saudara dan juga wilayah yang ditaklukan mulai melepaskan diri. Gajah Mada meninggal pada 1364 dan Hayam Wuruk meninggal pada 1389. (Melansir dari berbagai sumber/Maria Alexandra Fedho/Litbang MPI)

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya