Apapun bentuk kearifan lokalnya, kata dia, hal itu ditunjukkan bagaimana suatu permintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. "Di Bali ada kearifan lokal nerang hujan, di Banten ada debus, lalu di NTB ada bau nyale. Hal-hal seperti ini seharusnya kita pahami dan bisa bertoleransi satu sama lainnya, karena kearifan lokal sudah ada sejak zaman nenek moyang kita," ujar dia.
Kent meminta, aksi pawang hujan di Mandalika tersebut bisa diambil sisi positifnya, sebagai salah satu modal sosial budaya Indonesia untuk lebih mempromosikan negara ini ke dunia internasional.
(Qur'anul Hidayat)