BULAN Ramadan merupakan bulan yang dinanti oleh umat Muslim di dunia, tak terkecuali Muslim Rohingya. Ramadan menjadi bulan yang penuh dengan keberkahan. Maka dari itu, bulan Ramadan disambut dengan suka cita. Namun demikian, bulan Ramadan juga kerap dibayangi oleh ketakutan yang dirasakan oleh Muslim Rohingya. Berikut cerita Ramadan muslim Rohingya.
2018
Muslim Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian di distrik Cox's Bazar, Bangladesh harus menyambut Ramadan dengan duka dan pilu. Salah satunya dirasakan MD Hashim. Awal Ramadan menjadi kado pahit atas segala yang telah hilang sejak mereka diusir dari Myanmar dalam sebuah kekerasan militer.
MD Hashim memimpikan menjalankan Ramadan ini untuk kembali ke desanya sendiri. Ia terkenang dalam benaknya, ketika berbuka puasa dengan menggunakan hidangan ikan, mendapat hadiah dari keluarganya. Selain itu, dapat bersantai di bawah pepohonan sebelum salat Isya. Namun, di kamp pengungsian yang berada di Bangladesh ini, ia tidak dapat merasakannya. Di Bangladesh, ia tidak dapat membeli hadiah hingga tidak mempunyai makanan yang baik.
2020
Hajee Ismail merupakan salah satu pendiri Rohingya Peace Network of Thailand Bangkok. Di Thailand, ia mendapat memenuhi kebutuhan untuk berbuka puasa dengan kurma dan suguhan istimewa. Namun sejak Covid-19 melanda, semuanya tidak berlaku lagi. Meski begitu, ia beserta keluarga merasa jauh lebih baik ketimbang keluarga Rohingya yang bergantung pada upah harian untuk mempertahankan diri. Covid-19 yang melanda dunia ini membuat bisnis toko kelontongnya lesu.