2. Jerman
Pada 19 Desember 2016, kelompok terorisme ISIS melakukan teror dengan membajak sebuah truk dan menyandera pembeli di pasar Natal di Berlin. Akibatnya, 12 orang tewas. Empat hari kemudian, penyerang tersebut berhasil ditembak mati oleh polisi di Milan.
Berdasarkan data dari kepolisian Jerman, ada lebih dari 1000 orang yang diwaspadai sebagai anggota terorisme di Jerman, pada 2021. Mereka diklasifikasikan sebagai “orang berbahaya” atau orang-orang yang dapat melakukan kejahatan bermotif politik yang cukup signifikan. Ada pula “orang-orang relevan” atau kelompok yang lebih luas daripada kelompok inti. Menurut polisi, kelompok ini dapat memberikan dukungan berupa logistik dan hal lainnya untuk tindakan terorisme.
Jumlah “orang berbahaya” mencapai 554 orang, sedangkan “orang-orang relevan” sebanyak 527 orang. Peneliti dari Yayasan Penelitian Konflik negara bagian Hessen (HSFK) Julian Junk, dikutip dari DW, berpendapat bahwa saat ini faktor lain yang berperan penting dalam isu teror adalah kemajuan teknologi. Menurutnya, drone, algoritma internet, dapat meningkatkan kordinasi dengan cepat secara transnasional. Tetapi, teknologi juga membuka ruang lebih luas untuk melawan terorisme dengan melakukan tindakan pencegahan.
3. Turki
Turki merupakan salah satu negara dengan mayoritas muslim terbesar di perbatasan Eropa. Kelompok ISIS menjadikan Turki sebagai target serangan teror pada enam bulan pertama tahun 2016. Serangan teror terjadi sebanyak 11 kali di berbagai wilayah di Turki. Pada 29 Juni 2016, bom bunuh diri dilakukan di Bandara Attaturk, Istanbul yang menewaskan 41 orang.
Menurut peneliti Pusat Kajian Strategi dan Internasional (CSIS) Amerika Serikat, Bulent Aliriza, faktor yang paling berpengaruh adalah manuver para militan ISIS yang ingin melakukan serangan balik terhadap Turki. Hal ini dikarenakan sepanjang tahun 2015-2016, Turki membantu koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat menggempur basis-basis pada militan khilafah di Suriah.
(Rahman Asmardika)