Penjelasan Mengapa Waktu Tidur Manusia Lebih Pendek Dibandingkan Primata Lainnya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 04 Juni 2022 15:53 WIB
Ilustrasi/Freepik
Share :

Gandhi Yetish, seorang ahli ekologi evolusi manusia dan antropolog di University of California, Los Angeles, juga telah menghabiskan waktu dengan suku Hadza, serta suku Tsimane di Bolivia dan suku San di Namibia.

Dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 2015, dia menemukan rata-rata durasi tidur dari ketiga kelompok ini hanya antara 5,7 hingga 7,1 jam.

Manusia, kemudian, tampaknya telah berevolusi untuk membutuhkan lebih sedikit tidur daripada kerabat primata kita.

Samson menunjukkan dalam analisis pada tahun 2018 bahwa manusia melakukan ini dengan memotong fase tidur non-REM.

REM adalah fase tidur yang paling banyak dikaitkan dengan waktu mimpi terjadi. Itu berarti, dengan asumsi primata lain juga bermimpi, kita mungkin menghabiskan sebagian besar malam kita untuk bermimpi daripada mereka.

Manusia juga lebih fleksibel tentang kapan waktu tidur dimulai.

Untuk mencari tahu bagaimana manusia berevolusi dalam hal tidur, Samson memaparkan apa yang dia sebut sebagai hipotesis tidur sosial, dalam Tinjauan Tahunan Antropologi 2021.

Dia memperkirakan, evolusi tidur manusia adalah cerita tentang menjaga keselamatan, khususnya menjaga keselamatan dalam jumlah.

Tidur singkat yang padat dengan REM kemungkinan adalah hasil evolusi karena ancaman pemangsa yang meningkat ketika manusia mulai tidur di tanah, kata Samson.

Dan dia menilai kunci lain untuk tidur dengan aman di darat adalah tidur dalam kelompok.

"Mungkin menusia purba mulai hidup berkelompok untuk perlindungan, seperti cangkang siput," katanya.

Kelompok ini mungkin berbagi tempat tinggal sederhana. Api membuat mereka hangat dan mencegah serangga datang. Beberapa orang dalam kelompok dapat tidur, sementara sebagian yang lain berjaga.

"Dalam keamanan cangkang sosial ini, Anda bisa datang dan tidur sebentar kapan saja," ujar Samson.

Meski begitu, Samson dan Yetish memiliki pemikiran berbeda tentang prevalensi tidur singkat di kelompok non-industri saat ini.

Samson melaporkan kelompok Hadza dan penduduk di Madagaskar lebih sering tidur dalam durasi pendek. Sementara Yetish mengatakan, berdasarkan pengalamannya sendiri di lapangan, tidur seperti ini jarang terjadi.

Samson juga berpikir cara tidur seperti ini telah membantu perjalanan nenek moyang kita dari Afrika ke iklim yang lebih dingin.

Dengan begini, Samson melihat tidur sebagai subplot penting dalam kisah evolusi manusia.

Masuk akal bahwa ancaman predator mungkin membuat jam tidur manusia berkurang dibandingkan primata yang hidup di pohon, kata Isabella Capellini, ahli ekologi evolusioner di Queen's University Belfast di Irlandia Utara.

Dalam sebuah studi tahun 2008, dia dan rekan-rekannya menemukan bahwa mamalia yang memiliki risiko yang lebih besar dari pemangsa rata-rata tidur lebih sedikit.

Tapi Capellini tidak yakin bahwa tidur manusia berbeda dengan primata lain.

Dia mengatakan, data yang ada tentang tidur pada primata berasal dari hewan penangkaran.

"Kita masih belum tahu banyak tentang bagaimana hewan tidur di alam liar," katanya.

Di kebun binatang atau laboratorium, hewan mungkin kurang tidur daripada biasanya karena stres. Atau mereka mungkin tidur lebih banyak, kata Capellini, "hanya karena hewan merasa bosan".

Dan kondisi laboratorium standar—12 jam terang, 12 jam gelap—mungkin tidak cocok dengan apa yang dialami hewan di alam sepanjang tahun.

Ahli saraf Niels Rattenborg, yang mempelajari tidur burung di Institut Max Planck untuk Ornitologi di Jerman, setuju bahwa narasi Samson tentang evolusi tidur manusia menarik.

Tapi, katanya, "Saya pikir itu sangat tergantung pada apakah kita telah mengukur tidur pada primata lain secara akurat."

Kemungkinan, kita tidak melakukannya. Dalam sebuah penelitian pada 2008, Rattenborg dan rekannya menempelkan perangkat electroencephalography (EEG) pada tiga kukang liar dan menemukan bahwa hewan tersebut tidur sekitar 9,5 jam per hari.

Sebuah penelitian sebelumnya tentang kukang di penangkaran mencatat mereka tidur hampir 16 jam setiap hari.

Memiliki data dari lebih banyak dari hewan liar akan membantu para peneliti.

"Tapi secara teknis sulit untuk melakukan ini," kata Rattenborg.

Jika para ilmuwan memiliki gambaran yang lebih jelas tentang pola tidur primata di alam liar, bisa jadi ternyata durasi tidur manusia tidak sesingkat yang terlihat.

"Setiap kali ada klaim bahwa manusia lebih istimewa dalam suatu hal, begitu kami mulai mendapatkan lebih banyak data, kami menyadari bahwa kita tidak terlalu istimewa," kata Capellini.

Yetish, yang mempelajari pola tidur di masyarakat skala kecil, telah berkolaborasi dengan Samson dalam penelitian ini.

"Saya pikir tidur sosial, seperti yang Samson gambarkan, adalah solusi untuk masalah menjaga keamanan di malam hari," kata Yetish. Namun, dia menambahkan, "Saya tidak berpikir itu satu-satunya solusi."

Dia mencatat bahwa Tsimane kadang-kadang memiliki dinding di rumah mereka, yang akan memberikan keamanan tanpa butuh pengawasan manusia lain.

Dan Yetish meminta orang-orang dalam kelompok yang dia pelajari untuk memberi tahu dia di pagi hari, suara hewan apa yang mereka dengar di malam hari. Suara membangunkan kebanyakan orang di malam hari, menawarkan lapisan perlindungan lain.

Tidur berkelompok, baik karena ancaman predator atau tidak, juga merupakan perpanjangan alami dari cara orang-orang dalam masyarakat skala kecil hidup di siang hari, kata Yetish.

"Menurut pendapat saya, orang hampir tidak pernah sendirian dalam komunitas seperti ini," sebutnya.

Menggantikan tidur dengan kegiatan sosial

Yetish menggambarkan malam yang khas dengan suku Tsimane: setelah menghabiskan hari mengerjakan berbagai tugas, sekelompok orang berkumpul di sekitar api unggun saat makanan dimasak.

Mereka berbagi makanan, lalu berlama-lama di dekat api dalam kegelapan. Anak-anak dan para ibu secara bertahap menjauh untuk tidur, sementara yang lain tetap terjaga, berbicara dan bercerita.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya