NIGERIA – Pertumpahan darah di Gereja Katolik St Francis di kota Owo, Nigeria selama kebaktian pada Minggu (5/6/2022) menuai kecaman internasional secara luas.
Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin dalam sebuah telegram kepada Uskup Ondo mengatakan Paus Fransiskus "sangat sedih" dengan serangan mengerikan itu.
“Paus meyakinkan semua orang yang terpengaruh oleh tindakan kekerasan yang tak terkatakan ini tentang kedekatan spiritualnya,” katanya.
Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengutuk pembunuhan keji terhadap para jemaat.
Baca juga: Penembakan Sadis saat Misa Kebaktian di Gereja Nigeria, Pelaku Menyamar Jadi Jemaat
Sementara itu, perwakilan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Afrika Barat dan Sahel, Mahamat Saleh Annadif, menilai serangan itu sebagai "serangan teroris barbar".
Baca juga: Setidaknya 50 Orang Tewas dalam Pembantaian di Gereja Nigeria
Militer Nigeria diketahui memerangi pemberontakan jihad selama 12 tahun di timur laut dan geng kriminal bersenjata berat sering melakukan penjarahan dan penculikan massal di bagian barat laut dan utara-tengah.
Namun serangan skala besar di barat daya Nigeria relatif jarang terjadi, meskipun penculikan untuk mendapatkan uang tebusan semakin sering terjadi.
Jihadis Boko Haram di timur laut telah menargetkan gereja di masa lalu. Konflik jihad di Nigeria telah menewaskan 40.000 orang dan membuat 2 juta lainnya mengungsi di timur laut.
Serangan itu terjadi sehari sebelum partai APC yang berkuasa memulai pemilihan pendahuluan untuk kandidatnya dalam pemilihan 2023 untuk menggantikan Buhari, seorang mantan komandan tentara yang mundur setelah dua masa jabatan.
Keamanan akan menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang memenangkan perlombaan untuk memerintah negara terpadat di Afrika dan ekonomi terbesar di benua itu.
Selain jihadis dan geng kriminal yang dikenal secara lokal sebagai bandit, pasukan keamanan Nigeria juga menangani agitasi separatis di tenggara.
(Susi Susanti)