Menurut laporan pengadilan, Tomizawa dan Tomomi telah tinggal di rumahnya di kota Fukui. Tomomi pernah tinggal bersama kakeknya di Fukui, salah satu prefektur paling sedikit penduduknya di Jepang dan di mana sekitar satu dari tiga penduduknya berusia di atas 65 tahun, menurut angka pemerintah.
Rincian kehidupan mereka jarang tetapi pengamat menyoroti masalah seperti agresi dan kekerasan dalam rumah tangga yang sering dihadapi pasien Alzheimer dan pengasuh mereka yang frustrasi.
Pada malam 9 September 2020, mereka terlibat pertengkaran yang mengakibatkan kematian remaja tersebut.
Tomizawa ingat minum banyak malam itu. Kesal dan mabuk, dia mengambil pisau dapur sepanjang 17 sentimeter (hampir 7 inci) dan memasuki kamar tidur Tomomi, lalu berulang kali menikam lehernya.
Setelah itu, Tomizawa menelepon putra sulungnya, mengatakan bahwa dia telah menemukan tubuh Tomomi yang berlumuran darah. Polisi tiba di tempat kejadian segera setelah itu dan menangkap pria tua itu.
Kondisi mental Tomizawa menjadi fokus utama dalam persidangannya saat para dokter, pengacara, dan hakim memperdebatkan apakah dia sengaja membunuh cucunya atau tidak.
Dokter yang menilai kondisinya bersikeras bahwa dia memiliki motif untuk melakukan pembunuhan. "Tindakannya bertujuan dan konsisten dengan niatnya untuk membunuh," kata psikiater forensik Hiroki Nakagawa di pengadilan.