RADEN Wijaya membalaskan dendam dengan menyerbu Kerajaan Kediri. Penyerbuan yang digalang bersama oleh pasukan Mongol dari Tiongkok ini membuahkan hasil.
Istana Daha di ibu kota kerajaan bisa ditaklukkan. Bahkan Raja Jayakatwang yang sebelumnya menyerbu Singasari dan menghabisi takhta mertua Raden Wijaya, juga mati terbunuh. Tak hanya itu, pejabat utama Kerajaan Kediri turut terbunuh.
Namun, mirisnya ratu Kediri dan putri Daha yang cantik jelita juga turut mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kematian dua perempuan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Raden Wijaya. Pasalnya di perjanjian awal dengan Shih-Pi, pimpinan pasukan Mongol, jika kemenangan diraih maka pasukan Mongol bakal membawa serta putri Kediri dan sebagian harta rampasan perang.
Sayangnya, kematian putri Kediri membuat Raden Wijaya sedikit mengubah strateginya. Apalagi di dalam istana Daha masih ada Gayatri, perempuan anak dari Raja Kertanagara yang juga tengah dikejar untuk menjadi calon istri Raden Wijaya.
Raden Wijaya sesegera mungkin mengambil Gayatri dari istana Daha. Ia memanfaatkan momentum pasukan Mongol yang tengah berpesta pora usai kemenangan penaklukan Kediri. Namun, gelagat Raden Wijaya ini tercium pasukan Mongol.
Sebagaimana dikutip dari buku "Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit", pasukan Mongol yang mendapat kabar itu akhirnya menuju Majapahit untuk meminta kejelasan kepada Raden Wijaya. Di sisi lain sahabat setianya Arya Wiraraja berusaha meyakinkan Shih-Pi Raden Wijaya tidak ingkar janji.
Arya Wiraraja menjelaskan kepada pimpinan pasukan Mongol bahwa putri Daha yang masuk dalam perjanjian itu telah tewas. Oleh karena telah tewas maka kewajiban Raden Wijaya hanya memberikan sebagian harta rampasan perang dari Kediri. Perihal Gayatri itu bukanlah bagian dari perjanjian yang dimaksudkan Raden Wijaya.
Namun, pasukan Mongol terlanjur tak percaya, pasukan Mongol pun menyerbu Majapahit. Tuntutan agar putri Jawa diserahkan kepada pasukan Mongol membuat rakyat Majapahit bergejolak.