Dengan suami ketiganya, ia bergabung dengan pasukan lain untuk memperbesar kekuatan menghadapi Belanda. Lagi-lagi, ia harus menerima kenyataan suaminya tewas di medan juang. Namun, Cut Meutia tidak terpuruk. Ia dan pasukan kecilnya tetap memberikan perlawanan kepada Belanda hingga akhirnya lokasi persembunyian mereka diketahui Belanda.
Pada 1910, Cut Meutia tewas di tangan Belanda karena menolak ditangkap seraya memegang rencong. Gelar pahlawan nasional diberikan pemerintah kepada Cut Meutia atas jasanya, pada 2 Mei 1964.
4. Rohana Kudus
Ditetapkan pada tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo, Ruhana Kuddus atau populer dengan nama Rohana Kudus menjadi salah satu pahlawan nasional yang berasal Sumatera Barat. Pemilik nama asli Siti Ruhana yang lahir pada 1884 ini merupakan wartawan perempuan pertama Tanah Air.
Sebagai insan pers, ia memperjuangkan hak-hak perempuan melalui tulisannya. Rohana Kudus menjadi sosok di balik terbitnya Soenting Melajoe, surat kabar yang dikhususkan untuk perempuan. Melalui surat kabar ini, ia mengajak kawan dan para muridnya untuk menulis dan menuangkan aspirasi. Ia juga turut berkontribusi dalam lahirnya surat kabar lain, seperti Perempoean Bergerak di Medan dan surat kabar Radio di Padang.
Untuk mendukung emansipasi wanita, Rohana Kudus membangun Sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah yang mengajarkan keterampilan dan pengetahuan umum bagi kaum perempuan. Rohana Kudus meninggal dunia pada 1972 di Jakarta.
5. Rasuna Said
Rasuna Said dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia asal Sumatera Barat. Perempuan yang lahir pada 1910 ini memperjuangkan hak dan kesetaraan wanita. Saat menjalani pendidikan, ia menjadi satu-satunya santri di pesantren tempatnya belajar. Sejak saat itu, Rasuna Said mulai memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak bagi para wanita. Dia merintis gerak kaum wanita Minangkabau dengan tidak melanggar adat dan agama.
Rasuna Said melakukan perjuangannya di bidang politik dan pendidikan. Ia menjadi sekretaris cabang di Sarekat Rakyat, anggota Dewan Pertimbangan Agung dan Dewan Perwakilan Sumatera. Berkat kepiawaiannya dalam berpidato, dia menjadi wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict yang merupakan hukum larangan berbicara dalam menentang Belanda.
Selain aktif di bidang politik, Rasuna Said juga aktif dalam dunia jurnalistik. Tulisannya yang tajam menjadi tonggak perlawanan dalam melawan Belanda. Berkat tulisannya tersebut, Belanda membuat ruang geraknya dibatasi.
Rasuna Said wafat pada 2 November 1965. Berkat jasa-jasanya, Rasuna Said ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 1974. (Mirsya Anandari Utami-Litbang MPI)
(Angkasa Yudhistira)