Tan Malaka gemar membaca buku saat berkuliah di Belanda. Buku-buku yang dibacanya adalah Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin yang kemudian membawanya pada pemikiran “kiri”.
Ketika kembali ke Indonesia, Tan Malaka yang melihat bagaimana tidak adilnya kehidupan yang diterima para petani membuat amarah dan semangat juangnya mendidih. Tan Malaka kerap menulis di media massa untuk mengumbar kebenciannya terhadap Belanda, hingga diburon dan membuatnya harus berkelana ke berbagai negara dan menggunakan samaran.
(Arief Setyadi )