3. Ranggong Daeng Romo
Ranggong Daeng Romo lahir di Kampung Bone-Bone, Takalar pada tahun 1915. Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar pahlawan nasional pada 3 November 2001. Melansir informasi yang dalam laman IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Ranggong adalah pemimpin organisasi bernama Angkatan Muda Bajeng yang didirikan pada 16 Oktober 1945. Gerakan itu sebagai bentuk perlawanan menentang Belanda.
Terhitung sejak 5 Desember 1946, Angkatan Muda Bajeng resmi diangkat menjadi Komandan Barisan Gerakan Muda Bajeng yang tak hanya berfokus pada kegiatan militer, tapi juga di sektor pemerintahan. Sebagai pemimpin, Ranggong dianggap sangat berani dalam menganggu sepak terjang Belanda di bumi Pertiwi. Dirinya tidak penah sekalipun lelah berjuang, bahkan hingga gugur dalam pertempuran tanggal 28 Februari 1947.
Baca juga: 5 Tokoh TNI AL Bergelar Pahlawan Nasional, RE Martadinata Salah Satunya
4. Opu Daeng Risadju
Dari tanah Sulawesi Selatan, Indonesia juga mempunyai pahlawan perempuan bernama Opu Daeng Risadju. Data kepahlawanan menyebut, Opu Daeng dilahirkan di Palopo di tahun 1880 dan wafat pada 10 Februari 1964, juga di Palopo. Ia memiliki nama kecil Famajjah, sementara Opu Daeng Risadju adalah sebuah gelar kebangsawanan yang diberikan oleh Kerajaan Luwu, lantaran ia memiliki darah kerajaan.
Opu Daeng terkenal karena keberaniannya membangkitkan semangat para pemuda, bahkan memobillisasi mereka dalam melakukan perlawanan kepada tentara NICA, pasca kemerdekaan. NICA berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan Opu Daeng dan menangkapnya. Sayembara pun dilakukan. Barang siapa yang berhasil menangkap Opu Daeng dalam keadaan hidup atau mati, maka akan mendapatkan imbalan. Namun tetap saja, tidak ada satu pun masyarakat Palopo yang menggubris sayembara itu.
Sampai akhirnya, ia tertangkap NICA di Lantoro dan langsung dibawa ke wilayah Watampone. Tanpa adanya proses pengadilan, Opu Daeng harus mendekam di penjara Bone selama setahun lamanya dan dipindahkan ke Sengkan, lalu ke Bajo. Opu Daeng banyak mendapat penyiksaan oleh Ladu Kalapita (Kepala Distrik Bajo). Saking kerasnya siksaan yang ia terima, Opu Daeng harus menderita tuli seumur hidupnya. Ia wafat dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe. Pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan nasional berdasarkan surat keputusan tertanggal 3 November 2006.
(Fakhrizal Fakhri )