China juga telah mengumumkan darurat kekeringan tahun ini, karena suhu yang terik telah mengeringkan beberapa sungai termasuk bagian dari Yangtze, sungai terpanjang ketiga di dunia.
Daya listrik yang dihasilkan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) provinsi Sichuan telah turun secara signifikan sehingga menyebabkan pemadaman.
Para pejabat pemerintahan seperti dikutip berbagai media mengatakan pengiriman dengan kapal kargo juga telah dihentikan di beberapa jalur air dan lebih dari dua juta hektar lahan pertanian di enam provinsi telah terdampak.
Menurut Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus, rekor curah hujan rendah telah terpecahkan di Eropa bagian barat. Sementara itu, negara-negara Asia Tengah seperti Afghanistan dan Iran sudah mengalami kondisi kekeringan parah selama lebih dari satu tahun sekarang.
Di belahan bumi selatan, Amerika Selatan sangat terpengaruh dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kondisi kekeringan menyebabkan penurunan panen sereal 2020-2021 hampir 3%, sementara Cile bagian tengah telah mengalami "kekeringan besar" selama 13 tahun - yang terpanjang di kawasan itu selama satu millennium.
"Selain itu, kekeringan multi-tahun di Cekungan Parana-La Plata, yang terburuk sejak 1944, berdampak pada Brasil tengah-selatan dan sebagian Paraguay dan Bolivia," kata laporan itu.
Di masa lalu, kekeringan biasanya berkembang dalam beberapa musim atau tahun, namun ini mulai berubah di banyak tempat.