Setelah itu, Okta juga mendapat tugas lagi untuk ikut kejuaraan Yongmoodo yang belum pernah ia tekuni sebelumnya, tetapi dengan tekad keras ia menjalani pelatihan selama tiga bulan dan akhirnya siap tanding.
Pada waktu itu, jika Kopassus ingin menjadi juara umum di Kejurnas Bela Diri Militer Yongmoodo Kasad Cup ke-7 (2017), pertandingan Okta lah yang menjadi penentu.
Nahas, pada saat semifinal ia mengalami cedera yang membuat pergelangan kakinya membengkak besar, sulit melangkah, apalagi menendang. Malam itu Okta menangis kesal bercampur rasa sakit. Tim Dokter menyatakan Okta tidak dapat bertanding keesokan harinya, tetapi para pelatih dan koordinator yang semuanya prajurit Kopassus menguatkan hatinya bahwa ia pasti bisa! Berani, benar, berhasil, dan semua jargon Kopassus yang sering didengung-dengungkan rupanya menjadi motivasi baginya.
Keesokan harinya dengan kaki yang dibebat dan disemprot cairan penahan sakit, Okta membulatkan hati, meyakinkan diri akan menjadi pemenang pertandingan penentu dan membawa Kopassus menjadi juara umum. Tidak ada rasa sakit terbayang di wajahnya, menit demi menit berlalu sampai akhirnya wasit memberikan tanda pertandingan berakhir dengan Okta sebagai juara untuk kelas 55 kg putri.
Menang dalam pertandingan sudah menjadi tradisi di antara anggota perempuan, para senior dengan gagah membuka pintu kamar mereka lebar-lebar memamerkan gantungan medali yang berjuntai berat di dinding kamar pada adik-adik baru mereka, memberikan contoh dan motivasi untuk terus berlatih dan memenangkan berbagai pertandingan.
(Widi Agustian)