Namun Gus Dur tetap ngotot bahwa kepiting dan catut itu sama. Gus Dur pun membeberkan asal-usulnya. Ia cerita, awal berada di Mesir ia iseng-iseng pergi ke pasar untuk mencari kepiting. Saat itu dirinya belum tahu bahasa Arabnya kepiting. Di depan pedagang pasar, Gus Dur hanya bisa memperagakan kepiting dengan bahasa isyarat.
Si pedagang menyimak sembari kepala terangguk-angguk. Tak berselang lama, ia berjalan ke belakang yang katanya hendak mengambilkan apa yang diminta Gus Dur. Begitu si pedagang kembali, Gus Dur terkaget campur geli. Di tangan si pedagang tidak tertenteng kepiting, melainkan sebuah catut atau tang. “Lha, siapa yang mau makan catut?!,” seloroh Gus Dur.
(Khafid Mardiyansyah)