Namun ada kesamaan pembangunan candi di masa Kerajaan Mataram, naik Candi Borobudur dan Candi Prambanan menjadi pembangunan monumen keagamaan yang semegah itu hanya mungkin terutama berkat dorongan semangat keagamaan yang menyala-nyala di lingkungan keraton di kalangan rakyat.
Apalagi ini didukung dengan kekayaan negara dan kemakmuran rakyat yang berlimpah. Bagaimana pun bangunan - bangunan candi itu dibuat adalah hasil gotong royong dan kerjasama antara berbagai faktor demi keagungan agama, sepi dari segala pamrih.
Namun berbeda dengan pembangunan candi di masa Kerajaan Singasari dan Majapahit. Candi di zaman Singasari Majapahit banyak difungsikan sebagai makam keluarga raja. Dimana jumlahnya banyak tetapi wujudnya kecil-kecil.
Jika dibandingkan dengan kelompok Candi Borobudur dan Prambanan, pembangunan candi - candi di Majapahit dimaksudkan sebagai tempat pemujaan para leluhur, yakni arwah keluarga raja yang telah mangkat, lalu digunakan untuk tempat penyimpanan abu jenazah dan arca dewa sebagai lambang keluarga yang dipuja disitu.
Pada tahun 1365, berdasarkan sumber Kakawin Negarakretagama pupuh 74 dan 78 jumlahnya ada 27 buah, terletak di Kagenengan, Tumapel, Kidal, Jajago, Wedwawedan, Pikatan, Bakul, Jawajawa. Kemudian di Antang, Trawulan, Kalangbret, Jago, Blitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, dan Bebeg. Selanjutnya ada juga di Kukap, Lumbang, Puger, Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura, Budi Kincir, dan Prajnaparamita puri di Bayalangu.
Meskipun wujudnya adalah Candi Siwa atau Buddha, pada hakikatnya adalah candi makam. Pembangunanya itu bukan semata-mata tempat pemujaan Siwa atau Buddha seperti di Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Jawa Tengah.
Pada zaman Singasari Majapahit telah terjadi percampuran antara kepercayaan asli yang berupa pemujaan arwah leluhur dan kepercayaan asing berupa agama Siwa dan Buddha. Pembangunan candi itu pula dibangun dengan biaya kerajaan atas kemauan raja yang sedang memerintah untuk keagungan keluarga raja yang telah mangkat.
Sementara pembangunan candi - candi megah di era Mataram dibiayai gotong royong dan kerjasama antara pemeluk agama dan pendukung - pendukungnya. Raja memberikan biaya rakyat menunjang tenaga kerja, para seniman menyumbang bakat dalam penggarapannya dan para pendeta memberikan petunjuk - petunjuk perencanaannya.
(Awaludin)