Demi menambah penghasilan, suami Ainun mencuri-curi waktu bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api. Dia yang mendesain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Semakin lama, keperluan mereka semakin banyak. Demi menghemat pengeluaran, sebisa mungkin semuanya dikerjakan sendiri.
Mulailah Ainun belajar menjahit sendiri. Lantaran sudah terbiasa, jahitannya tidak terlalu jelek. Dia mulai memperbaiki bagian yang rusak, membuat pakaian bayi, merajut, dan menjahit pakaian dalam persiapan musim dingin.
Ainun mengakui bahwa barang yang pertama kali dia beli adalah mesin jahit. Bukan mesin cuci, bukan oven atau apapun yang serba otomatis. Saat itu, mesin jahit adalah salah satu barang prioritas yang harus dibeli.
(Widi Agustian)