JAKARTA - Komnas HAM melakukan investigasi tragedi Kanjuruhan yang menewaskan lebih dari 100 Aremania pada 1 Oktober 2022 lalu.
Berikut 5 Fakta Komnas HAM Lakukan Investasi Tragedi Kanjuruhan:
1. Gas Air Mata Penyebab Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
Komisioner Komnas HAM, Chairul Anam menyebut, kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, disebabkan akibat gas air mata yang ditembakan oleh polisi ke suporter dalam stadion.
"Jadi kalau ada informasi yang bilang bahwa suporter ke sana mau menyerang pemain itu tidak seperti itu," ujarnya kepada wartawan, Kamis 9 Oktober 2022.
Baca juga: 131 Tewas di Kanjuruhan, Investigasi Komnas HAM: Tembakan Gas Air Mata Polisi Penyebab Kerusuhan!
"Gas air mata lah yang membuat panik dan sebagainya sehingga ada terkonsentrasi di sana di beberapa titik pintu. Ada pintu yang terbuka sempit. Terus ada pintu yang tertutup. Itulah yang membuat banyak jatuh korban," sambungnya.
Baca juga: Perindo : Usut Tuntas Tragedi Stadion Kanjuruhan, Jangan Berhenti di Tagar Berduka
2. Komnas HAM Sebut 131 Orang Tewas saat Tragedi Kanjuruhan
Anam mengatakan, kondisi awal kericuhan merupakan keterangan paling valid dalam merunut kejadian ricuh Kanjuruhan tersebut yang menyebabkan banyak korban jiwa. Akibatnya, 131 orang tewas termasuk 2 anggota polisi.
Komnas HAM sendiri telah meminta keterangan dari sejumlah pihak-pihak terkait dalam kasus tragedi berdarah tersebut.
3. Tak Ada Ancaman Aremania saat Tragedi Kanjuruhan
Anam menjelaskan bahwa setelah mencari tahu dari suporter dan para pemain Arema, tidak ada satu pun ancaman yang diberikan oleh Aremania pada saat turun ke lapangan kala itu.
"Kami cross check ke para suporternya bilangnya ya kami kan mau kasih semangat walaupun mereka kalah," jelasnya.
"Kami sedang menelusuri secara mendalam karena ada constraint waktu, sekian menit itu, di lapangan, itu sebenarnya cukup terkendali kondisinya kalau kita lihat video," tandasnya.
Baca juga: Kapolri Bakal Umumkan Tersangka Tragedi Kanjuruhan Malam Ini
4. Korban Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan Diduga Kekurangan Oksigen
Wajah jenazah korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur berubah biru. Diduga kuat para korban kehabisan oksigen. Sementara, itu, hingga hari ini tercatat 131 orang meninggal dunia, termasuk dua anggota polisi.
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan kondisi jenazah korban kerusuhan di Kanjuruhan sangat memprihatinkan. Disinyalir, perubahan warna di wajah para korban meninggal di Kanjuruhan karena kekurangan oksigen.
Baca juga: 131 Tewas di Kanjuruhan, Investigasi Komnas HAM: Tembakan Gas Air Mata Polisi Penyebab Kerusuhan!
“Kondisi jenazahnya banyak yang wajahnya berwarna biru. Ini menunjukkan kemungkinan besar karena kekurangan oksigen dan karena gas air mata,”ujarnya dilansir dari kanal Humas Komnas HAM, Kamis 6 Oktober 2022.
Komnas HAM juga menemui korban yang selamat dalam tragedi Kanjuruhan tersebut. Anam mengatakan, kondisi korban yang selamat tidak jauh berbeda dengan yang meninggal.
“Kami bertemu dengan salah satu korban yang selamat, pada Senin (dua hari setelah kejadian), itu baru bisa melihat, sebelumnya tidak bisa melihat, matanya sakit kalau dibuka, dadanya sesak, dan tenggorokannya perih,” tutup Anam.
5. Temuan Komnas HAM soal Pintu 13 Stadion yang terkunci
Anam menemukan fakta lain di balik kabar soal terkuncinya pintu nomor 13 Stadion Kanjuruhan. Kata dia, informasi itu masih simpang siur.
"Isu pintu terkunci karena isunya simpang siur, salah satu yang kami bandingkan dengan yang viral di berbagai media sosial ada satu pintu yang terkunci dan dinarasikan itu pintu 13. Ternyata setelah kami cek, dan kami cocokkan identik dengan pintu nomor 3, bukan 13, itu penting bagi kita semua," kata Choirul.
Choirul menyebut, adanya narasi-narasi yang beredar di media sosial yang dinilainya meresahkan. Apalagi dengan kondisi pada keluarga ahli waris dan korban yang masih dalam kondisi berduka cita dan belum hilang traumanya.
"Ayo kita bahu membahu membuka peristiwa ini terang perisitiwa ini, apa yang terjadi, janganlah direcokin dengan hoaks, ayo solidaritas terhadap keluarga Korban, ayo solidaritas terhadap semua pelaku yang mencintai sepakbola ini, jangan sebarkan hoaks" ungkapnya.
Namun, Choirul menyadari bahwa ada pintu yang luasnya cukup kecil, yaitu hanya selebar satu meter saja sehingga hanya mampu dilalui maksimal dua orang. Mengingat ada ribuan orang yang berdesakan malam itu, maka tentunya hal ini menghambat evakuasi setelah polisi menembakkan gas air mata ke tribun.
Baca juga: Raja Salman dan Putra Mahkota MBS Sampaikan Belasungkawa atas Tragedi Kanjuruhan
(Fakhrizal Fakhri )