JAKARTA - Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober merupakan tonggak sejarah penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, para pemuda Indonesia yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang berkumpul dalam Kongres Pemuda II dan mengucapkan Sumpah Pemuda. Lahirnya Sumpah Pemuda tentunya dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Berikut faktor-faktor yang menjadi latar belakang lahirnya Sumpah Pemuda, dilansir berbagai sumber.
1.Politik Etis Belanda di Bidang Edukasi
Sejak dijajah Belanda, rakyat mengalami penderitaan dan kemiskinan. Atas kritik keras dari kaum intelektual Belanda, salah satunya dari CH Van Deventer, pemerintah Belanda pun mengeluarkan kebijakan Politik Etis. Politik Etis ini merupakan kebijakan balas budi Belanda demi meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang mencakup edukasi (pendidikan), irigasi (pertanian), dan transmigrasi (perpindahan penduduk).
Baca juga: Museum Sumpah Pemuda Gelar Upacara, Anak Muda Harus Jadi Agen Perubahan
Politik Etis di bidang pendidikan diwujudkan dengan membuka sekolah-sekolah bagi kaum pribumi. Hal inilah yang kemudian memunculkan kaum terpelajar di kalangan bumiputra, yang memiliki kesadaran kebangsaan. Mereka kelak menjadi pelopor kebangkitan nasional di Tanah Air.
Baca juga: Peristiwa 27 Oktober: Kongres Pemuda II Dibuka hingga Berdirinya PLN
2. Dorongan untuk Bersatu dalam Diri Pemuda Indonesia
Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia memiliki perbedaan, baik dalam hal suku, agama, juga bahasa. Perbedaan ini juga terjadi dalam lingkup organisasi kepemudaan. Muncul organisasi-organisasi kepemudaan yang berlatarkan daerah asal, agama, juga nasionalis, dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, mereka juga menyadari bahwa kondisi tersebut sangat mudah dipatahkan oleh penjajah. Melebur menjadi satu adalah hal yang perlu dilakukan untuk dapat bergerak bersama melawan kolonial. Akhirnya, para pemuda sepakat untuk mengadakan kongres pemuda guna menyatukan organisasi-organisasi pemuda. Kongres Pemuda pertama berlangsung pada 30 April sampai 2 Mei 1926 di Jakarta. Kongres ini menghasilkan kesepakatan, salah satunya adalah usaha untuk menggalang persatuan organisasi pemuda dalam sebuah wadah tunggal.