JAKARTA – Kisah dan peran Mayjen Sungkono saat peristiwa 10 November 1945 atau tepat 77 tahun silam akan dibahas dalam artikel ini.
Salah satu tokoh yang terkenal dalam peristiwa tersebut adalah Bung Tomo. Saat itu, dia membakar semangat arek-arek Surabaya dengan pidatonya. Selain Bung Tomo, ada satu tokoh lagi yang perannya cukup besar dalam peristiwa itu. Dia adalah Mayjen Sungkono.
(Baca juga: Dieksekusi Tentara Belanda, Pejuang Ini Kembali Hidup saat Jasadnya Menyentuh Tanah)
Sungkono lahir pada 1 Januari 1911 di Purbalingga Kidul Kabupaten Purbalingga, dari pasangan seorang tukang jahit Tawireja dan Rinten.
Saat peristiwa 10 November, Sungkono masih berumur 31 tahun dan berpangkat kolonel. Ia merupakan salah satu tokoh pendiri BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang kemudian menjadi cikal bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia).
"Saudara-saudara, saya ingin mempertahankan Kota Surabaya...Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini,” ujar Sungkono dalam pidato singkatnya seperti dikutip dari Surabaya 1945: Sakral Tanahku.
Pidato Sungkono tersebut disambut dengan deklarasi kebulatan tekad. Deklarasi itu berupa sumpah pejuang Surabaya yang menggunakan semboyan ‘Merdeka atau Mati’. Sumpah tersebut kemudian ditandatangani para komandan, termasuk Sungkono.
Berkat jasa-jasanya terhadap Indonesia, nama Mayjen Sungkono pun diabadikan sebagai nama Jalan di Surabaya.
(Fahmi Firdaus )