JAKARTA - Gelar pahlawan nasional di Indonesia diberikan pertama kali pada 1959. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 195 pahlawan nasional. Salah satunya Arnold Mononutu, yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia asal Minahasa pada 2020.
Pro Mr. Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu atau lebih dikenal dengan Arnold Mononutu lahir di Manado 4 Desember 1896. Diketahui ia pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, anggota Majelis Konstituante, dan rektor Universitas Hasanuddin. Selain itu, ia adalah Duta Besar Indonesia pertama untuk Tiongkok.
Semasa hidup ia memiliki perjalanan hidup yang istimewa. Ia diakui sebagai orang yang memiliki mental baja pada masa kolonial Belanda. Mononutu juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia memperoleh rasa nasionalismenya selama studi pasca sekolah menengahnya di Belanda.
Pada 2020, ia diberikan gelar kehormatan Pahlawan Nasional Indonesia secara istimewa.
Berikut kisah perjalanan hidup Arnold Mononutu sebagai pahlawan nasional Indonesia,
Sewaktu di Belanda
Pada 1920, Mononutu pergi ke Eropa untuk studi di Belanda. Ia mendaftar di salah satu perguruan tinggi Akademi Hukum Internasional Den Haag di Belanda. Awalnya Mononutu tidak memiliki jiwa kebangsaan. Namun, setelah mengikuti organisasi mahasiswa himpunan Indonesia dari situ dirinya memiliki jiwa nasionalisme.
Mononutu juga pernah menjadi perwakilan organisasi “Indische Vereeniging” di Paris. Selama di Paris Mononutu dicurigai segala aktivitasnya. Ia sering meminjam uang sebab sang ayah tidak boleh mengirimkan uang kepada Mononutu akibat dituduh memiliki rasa simpati terhadap komunis.
Namun, diam-diam Mononutu menerima uang dari ayahnya dititipkan kepada temannya yang sering bepergian Belanda ke Indonesia. Uang itu dipergunakan untuk melunasi utang Mononutu hingga pada September 1927 Mononutu pulang ke Indonesia.
Kembali ke Indonesia
Setelah pulang ke Indonesia, Mononutu terlibat dalam upaya nasionalis lokal. Ia menjadi anggota partai. Di Indonesia, ia bekerja untuk perusahaan eksplorasi minyak Jepang. Namun, ia memutuskan untuk pindah dan bekerja dengan gaji yang lebih rendah di perguruan tinggi rakyat yang baru didirikan. Mononutu mengelola dan mengajar di sekolah-sekolah. Bahkan sekolah tersebut sudah memiliki murid sekitar 300 siswa mendaftar tahun 1930. Setelah beberapa tahun mengajar. Mononutu kembali ke Manado lantaran mengetahui ibunya sakit.