Anak Muda China Ogah Bekerja di Pabrik, Gaji Rendah hingga Jam Kerja Tak Manusiawi Jadi Pertimbangan

Susi Susanti, Jurnalis
Senin 21 November 2022 12:22 WIB
Anak muda China enggan menjadi buruh pabrik karena alasan gaji hingga jam kerja yang tak manusiawi (Foto: Antara/Xinhua)
Share :

Dotty, seorang manajer umum di pabrik perawatan baja tahan karat di kota Foshan, telah mengotomatiskan pengemasan produk dan pembersihan, tetapi mengatakan perbaikan serupa untuk fungsi lain akan terlalu mahal. Namun pekerja muda sangat penting untuk menjaga produksi tetap berjalan.

"Produk kami sangat berat dan kami membutuhkan orang untuk memindahkannya dari satu prosedur pemrosesan ke prosedur berikutnya. Ini adalah pekerjaan padat karya dalam suhu panas dan kami kesulitan merekrut pekerja usia muda untuk prosedur ini," katanya.

Brett, seorang manajer di sebuah pabrik yang membuat kontroler video game dan keyboard di Dongguan, mengatakan pesanan telah berkurang setengahnya dalam beberapa bulan terakhir, dan banyak rekannya pindah ke Vietnam dan Thailand.

Dia hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup saat ini, seraya menambahkan dia berharap untuk memberhentikan 15% dari 200 pekerjanya, meski sebenarnya masih membutuhkan tenaga muda untuk melakukan perakitan.

Seperti diketahui, daya saing sektor manufaktur China yang berorientasi ekspor telah dibangun selama beberapa dekade dengan investasi yang disubsidi negara dan biaya tenaga kerja yang rendah.

Namun pelestarian status quo itu sekarang berbenturan dengan aspirasi generasi China yang lebih berpendidikan dan menginginkan kehidupan yang lebih nyaman daripada rutinitas membosankan dengan kehidupan sederhana yang dialami orang tua mereka.

Alih-alih menerima pekerjaan di bawah tingkat pendidikan mereka, rekor 4,6 juta orang China melamar studi pascasarjana tahun ini. Menurut media pemerintah bulan ini, ada 6.000 lamaran untuk setiap pekerjaan pegawai negeri.

Banyak anak muda China yang juga semakin mengadopsi gaya hidup minimal yang dikenal sebagai "flying flat" atau Tang Ping, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak muda yang rela keluar dari pekerjaan bergaji tinggi dan jam kerja ketat, demi menikmati hidup yang lebih santai.

Ekonom mengatakan kekuatan pasar dapat memaksa baik pemuda China maupun pabrik untuk menghalangi aspirasi mereka.

“Situasi pengangguran bagi kaum muda mungkin jauh lebih buruk jika ketidaksesuaian tersebut tidak segera diperbaiki,” kata Zhiwu Chen, profesor keuangan di Universitas Hong Kong.

(Susi Susanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya