JAKARTA - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sudah mengumpulkan sekira 8.000 arsip terkait pandemi Covid-19.
"Arsip pandemi Covid-19 sudah masuk dari 18 instansi. Sudah terkumpul hampir 8.000 arsip," kata Kepala ANRI Imam Gunarto di Jakarta.
"Arsip itu ada hampir 8.000, sekitar 7.800-an sekian. Jadi arsip itu berkas, ada yg tebal ada yg tipis. Kita hitung berdasarkan nomor yang masuk," lanjut Imam.
Dia mengungkapkan, kementerian dan lembaga memang diharuskan untuk menyerahkan arsip terkait pandemi ini kepada ANRI.
"Untuk Covid-19, aturannya mengharuskan setelah 2 tahun covid berakhir, maka kementerian dan lembaga wajib menyerahkan arsipnya ke ANRI," kata dia.
ANRI, kata Imam, berusaha agar peristiwa merebaknya Flu Spanyol di Indonesia pada tahun 1918 tidak kembali terulang. Yakni, dengan tidak adanya arsip yang merekam peristiwa tersebut.
"Kami fokus tidak mau mengulangi kejadian 100 tahun lalu ketika flu spanyol terjadi. Sehingga tidak bisa dijadikan bahan pembelajaran masyarakat," tutur dia.
Selain itu, ANRI juga bekerjasama dengan BRIN. Salah satunya dengan "menyelamatkan" arsip-arsip terkait dengan vaksin Covid-19 yang dikembangkannya, yakni vaksin merah putih.
"Hasil riset kita banyak di BRIN, kita selamatkan agar sistem pengetahuannya bisa diwariskan kepada masyarakat yang akan datang," jelas Imam.
(Natalia Bulan)