JAKARTA – Fenomena tanah bergerak yang terjadi di Kampung Cingenge RT 014, Kedusunan Gadog, Desa Bojong, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi pada Minggu, (13/11/2022) menyebabkan 13 rumah mengalami kerusakan.
Menurut keterangan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) fenomena tanah bergerak disebabkan karena adanya kondisi geologi yang dipicu curah hujan tinggi.
BACA JUGA: Pergerakan Tanah di Sukabumi Hancurkan Belasan Rumah
"Tanah bergerak di Sukabumi karena kondisi geologi dan kelerengan yang dipicu oleh curah hujan," ujar koordinator Gerakan Tanah PVMBG Sumaryono kepada MPI, Selasa (13/12/2022).
Sumaryono menambahkan, guna menelaah lebih dalam, pihaknya, tengah melakukan pengukuran tanah dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) atau Georadar merupakan alat pelacak bawah permukaan bumi dengan gelombang radio.
BACA JUGA: Warga Terdampak Tanah Bergerak di Bogor Bertambah Jadi 1.020 Jiwa
"Saat ini tim geologi baru melakukan pengukuran bawah permukaan dengan GPR dan Geolistrik di Neglasari, Cibadak," ungkapnya.
Adapun, Mengutip dari situs Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batu pada arah tegak, mendatar, atau miring dari kedudukan semula.
Gerakan tanah mencakup gerak rayapan dan aliran maupun longsoran. Dengan demikian tanah longsor juga menjadi bagian dari tanah bergerak.
Diketahui, Bencana alam seringkali melanda Indonesia, hal ini dikarenakan Indonesia berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik; lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.
Kondisi itulah yang menimbulkan potensi bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Beberapa bencana alam yang terjadi bahkan cukup besar untuk sampai terasa atau disoroti oleh negara-negara lain.
(Rahman Asmardika)