JAKARTA - Timor Timur mengalami kekosongan kekuasaan sebelum kemudian bergabung dengan Indonesia. Revolusi Bunga pun terjadi ketika Portugal menduduki Timor Timur pada 1975. Revolusi ini menyebabkan Portugis tidak bisa mempertahankan kekuasaannya di wilayah tersebut.
Dilansir dari Militer, partai komunis Fretilin berusaha merebut Timor Timur setelah melihat kondisi yang tidak stabil tersebut. Bahkan mereka membantai banyak warga sipil untuk menguasai wilayah yang ingin direbutnya.
(Baca juga: Cerita Jenderal Kopassus Tembak Mati Pemberontak saat Operasi Tempur Perdana)
Pemerintah Indonesia membentuk pasukan gabungan Nanggala-LII Kopassandha atau yang sekarang lebih dikenal dengan Kopassus untuk mencegah aksi brutal Fretilin supaya tidak semakin meluas.
Satu kelompok yang beranggotakan sembilan orang mulai dikirim, dan salah satu diantaranya adalah Pratu Suparlan.
Dia adalah pasukan Kopassandha bersama tiga rekannya sedangkan untuk lima lainnya merupakan anggota Kostrad. Pasukan ini dipimpin oleh Poniman Daisuki.
Patroli yang dilakukan pasukan ini mencakup Zona Z, KV 34-34/Komplek Liasidi di pedalaman hutan Bumi Larose. Karena wilayah ini dikenal rawan dan juga merupakan sarang tokoh utama Fretilin yang memiliki persenjataan cukup unggul, pasukannya sendiri merupakan orang-orang yang terlatih. Awalnya pasukan Kopassandha akan menyergap pos pengamatan Fretilin untuk memudahkan langkah berikutnya.
Pasukan Fretilin bertambah banyak dan langsung menyerbu dari berbagai arah dengan jumlah 300 pasukan. Seakan sudah mengetahui strategi pasukan Kopassandha ini. Dengan kalahnya jumlah pasukan dan persenjataan, satu persatu anggota mulai gugur.
Bahkan pasukan ini sempat dipaksa mundur hingga pinggir jurang. Karena hal ini tentunya membutuhkan pemikiran cepat untuk keluar dari situasi ini. Sementara jalan satu satunya adalah melalui celah bukit dan dibutuhkan ketepatan waktu sebelum disergap oleh pasukan musuh. Kemungkinan ini dilihat oleh Komandan tim gabungan tersebut yang segera memerintahkan anggota yang tersisa untuk meloloskan diri.
Pratu Suparlan lalu muncul dan memilih mengorbankan dirinya untuk menghadang dan mengulur waktu musuh supaya teman temannya bisa selamat. Dengan gagah berani dia mengambil senapan mesin otomatis FN milik rekannya yang telah gugur kemudian maju menghampiri pasukan Fretilin. Beberapa rekannya mengatakan bahwa dia seperti benteng berjalan yang menahan semua tembakan.
Bahkan setelah amunisinya habis dia masih tidak menyerah, dia mengambil pisau dan mengejar pasukan musuh yang bersembunyi di semak meskipun tubuhnya telah terluka parah.
Dengan kondisi seperti itu dia bahkan sanggup menumbangkan enam pasukan Fretilin. Setelah kehabisan tenaga dia lalu jatuh terduduk lalu mencabut dua buah granat dan melemparkannya ke musuh sambil berteriak "Allahu Akbar" berbarengan dengan ledakan granat di tanganya.
Pratu Suparlan dinyatakan gugur bersama dengan enam prajurit lainnya. Sementara dari pihak Fretilin terdapat 83 orang tewas dan beberapa diantaranya ditangkap hidup-hidup. Kondisi tubuh Pratu Suparlan saat ditemukan sudah tidak utuh lagi.
Pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Sakti kepada Kopda Suparlan melalui Keppres No 20/TK/TH.1987 atas aksi heroiknya tersebut.
(Fahmi Firdaus )