Swedia Larang Aktivis Anti-Islam Gelar Demonstrasi Pembakaran Alquran

Rahman Asmardika, Jurnalis
Kamis 09 Februari 2023 11:48 WIB
Politikus ekstrem kanan Denmark Rasmus Paludan membakar salinan kitab suci Alquran dalam demonstrasi di Stockholm, Swedia, 21 Januari 2023. (Foto: Reuters)
Share :

STOCKHOLM - Polisi Swedia telah menolak memberikan izin kepada aktivis anti-Islam untuk membakar Alquran di depan kedutaan Turki di Stockholm, dengan alasan meningkatnya ancaman teroris menyusul tindakan serupa bulan lalu. Turki mengancam akan memblokir permohonan Swedia untuk menjadi anggota NATO setelah protes pembakaran Alquran sebelumnya mendapat izin dari pihak berwenang.

Kepolisian nasional Swedia mengumumkan pada Selasa, (7/2/2023) bahwa permohonan protes terbaru telah ditolak, menjelaskan bahwa “demonstrasi semacam itu dinilai dapat menyebabkan gangguan serius terhadap keamanan nasional.”

BACA JUGA: Komunitas Yahudi Swedia: Izin Demonstrasi Membakar Al Quran Adalah Kesalahan Besar

Politisi sayap kanan Denmark Rasmus Paludan, yang juga memegang kewarganegaraan Swedia, membakar kitab suci umat Islam di depan kedutaan Turki bulan lalu. Sementara politisi Swedia mengutuk aksi Paludan, pihak berwenang masih mengizinkan protes itu untuk dilanjutkan, dengan Menteri Luar Negeri Tobias Billstrom mengutip undang-undang "kebebasan berekspresi" negara itu.

Protes tersebut memicu gelombang kemarahan di seluruh dunia Muslim. Dalam sebuah laporan pada Selasa, Polisi Keamanan Swedia – badan yang bertanggung jawab untuk spionase dan kontraterorisme – mengatakan bahwa mereka telah melihat “peningkatan jumlah ancaman teroris” setelah pembakaran.

“Swedia dinilai memiliki fokus yang lebih besar daripada sebelumnya untuk kekerasan Islamisme,” kata badan tersebut sebagaimana dilansir RT.

Kepolisian nasional mengatakan telah membuat keputusan untuk menolak permohonan protes kedua setelah berdiskusi dengan Polisi Keamanan Swedia.

Selain meningkatkan ancaman teror, demonstrasi Paludan pada Januari juga membahayakan upaya Swedia untuk bergabung dengan NATO.

Swedia dan Finlandia sama-sama meninggalkan kenetralan mereka dan mendaftar untuk bergabung dengan blok militer yang dipimpin Amerika Serikat (AS) itu pada musim panas lalu. Namun, penolakan Stockholm untuk melarang Paludan membakar Alquran secara terbuka mendorong Ankara untuk membatalkan pertemuan aksesi dengan kedua negara Nordik tersebut.

Turki telah bentrok dengan kedua negara, menolak untuk meratifikasi tawaran keanggotaan mereka sampai mereka setuju untuk mengekstradisi puluhan tersangka teroris dan mencabut embargo senjata yang sebelumnya diberlakukan di negara tersebut.

Sehubungan dengan pembakaran Alquran, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan minggu lalu bahwa “selama (Swedia mengizinkan) kitab suci saya, Alquran, untuk dibakar dan dirobek… kami tidak akan mengatakan ya untuk masuknya Anda ke NATO.”

Meskipun AS adalah kekuatan dominan di NATO, semua 30 negara anggota harus memilih dengan suara bulat untuk menerima negara baru ke dalam aliansi.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya