Pendeta: Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memanggil Tuhan Anak, Tuhan Bapak.
Si Biksu kemudian menimpali: Kami juga dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om.
Kedua pemuka agama itu kemudian bertanya pada sang kiai.
Pendeta dan Biksu: Bagaimana dengan Anda, pak kiai?
Sang kiai menjawab: Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake menara.”
(Rahman Asmardika)