Dalam catatan puromangkunegaran.com disebutkan, Pasukan Estri Ladrang Mangungkung beranggotakan 60 prajurit wanita pilihan. Mereka selalu mengendarai kuda, dan memiliki senapan, dan wedung yang merupakan senjata khusus untuk para wanita.
Saat berumahtangga, para wanita prajurit Pasukan Estri Ladrang Mangungkung ini, memiliki peran ganda. Selain sebagai istri, dia juga harus menjalankan tugas-tugas keprajuritan, termasuk menjadi teliksandi atau mata-mata dan pengawal. Dalam perkembangannya, para prajurit wanita pilihan ini, juga bertugas mengawal keselamatan istri KGPAA Mangkunegara I, serta para wanita keluarga Mangkunegaran.
Selama berada di Istana Mangkunegaran, mereka juga memiliki tugas menghibur tamu-tamu kerajaan lewat sajian nyanyian, tarian, hingga bermain gamelan. Prajurit wanita ini memiliki kemampuan menjadi sinden, wiyogo atau pemain gamelan, serta memainkan berbagai tarian, seperti tarian bedhaya, srimpi, munggeng kelir, hingga taledhekan.
Sebagai prajurit tempur, para wanita yang tergabung dalam Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, juga memiliki jiwa korsp yang kuat. Mereka sangat setia kawan, dan sangat disegani oleh lawan-lawannya. Setelah Pangeran Sambernayawa atau KGPAA Mangkunegara I mangkat, keberadaan Pasukan Estri Ladrang Mangungkung ini tetap dipertahankan. Mereka bahkan tergabung dalam pasukan yang lebih besar, yakni Legiun Mangkunegaran yang dibentuk dan dikembangkan oleh Mangkunegara II, pada tahun 1808.
Mangkunegara II memiliki visi yang sangat kuat dalam pembentukan pasukan elite tempur Legiun Mangkunegaran. Tak hanya mengadopsi Grande Armee, pembentukan Legiun Mangkunegaran juga mengadopsi Legionnaire atau Legiun, sebuah organisasi militer Perancis, yang berarti pasukan bala tentara. Pasukan tempur dari Tanah Jawa ini, mengadopsi militer Perancis secara fisik, persenjataan, taktik, dan organisasi. Mangkunegara II juga mendatangkan pelatih profesional yang merupakan perwira-perwira militer Belanda, Perancis, dan Inggris untuk menggembleng para prajurit Legiun Mangkunegaran.