TEHERAN - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengampuni 22.628 orang yang ditangkap selama demonstrasi setelah kematian wanita Kurdi berusia 22 tahun Mahsa Amini dalam tahanan polisi tahun lalu. Pengampunan para tahanan itu diumumkan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei pada Senin, (13/3/2023) yang dilaporkan oleh media pemerintah Iran.
Ejei mengklarifikasi bahwa mereka yang menerima grasi tidak dituduh melakukan pencurian atau kejahatan kekerasan, mata-mata, atau menjadi anggota kelompok tertentu, demikian diwartakan RT.
Secara keseluruhan, Khamenei mengampuni total 82.656 tahanan dan individu Iran yang menghadapi dakwaan dalam amnesti massal, yang menandai peringatan 44 tahun Revolusi Islam 1979. Pengumuman itu juga datang seminggu sebelum perayaan tahun baru Persia Nowruz dan dimulainya bulan suci Ramadhan.
Amnesti massal pertama kali diumumkan bulan lalu, ketika Ayatollah setuju untuk mengampuni “puluhan ribu” tahanan. Di antaranya adalah peserta kerusuhan baru-baru ini yang tidak dituduh melakukan spionase atau keterlibatan dengan agen intelijen asing, tidak merusak properti negara, dan tidak melukai atau membunuh siapa pun selama kerusuhan.
Kelompok oposisi dan aktivis yang telah menyerukan pembebasan pengunjuk rasa yang dipenjara menuntut agar pejabat Iran “dimintai pertanggung jawaban” atas apa yang digambarkan oleh wakil direktur Pusat Hak Asasi Manusia di Iran yang berbasis di Amerika Serikat (AS) sebagai “pemenjaraan sewenang-wenang terhadap puluhan ribu orang. .”