Cerita Kiai Badrudin Trenggalek Lawan Penjajah dengan Jagung, Pasir dan Garam

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 24 Maret 2023 03:09 WIB
Ilustrasi (Foto: Dok Istimewa)
Share :

Alhasil, setelah mandi di sungai tersebut, atas izin Allah SWT Kiai Badruddin sembuh seperti sediakala. Ia pun akhirnya berangkat ke Kota Surabaya. Namun, sebelum berangkat Kiai Badruddin berpesan kepada keluarga dan para santri agar didoakan supaya ia tetap dalam lindungan Allah SWT.

“Sebisanya, sekuatnya selama aku pergi bacakanlah Alquran," ujarnya dilansir NUOnline.id, Kamis 23 Maret 2023.

Tepat pada hari yang telah ditentukan, ia dijemput oleh serombongan tentara jihad yang datang dengan seragam perang serta mobil sedan yang diperuntukan khusus untuk menjemputnya. Kiai Badrudin tidak menggunakan pakaian seperti layaknya orang yang hendak berperang, melainkan pakaiannya mirip orang mau pergi mengaji.

Kiai Badrudin memakai kopiah, sarung, dan baju putih lengan panjang, serta sebilah Bungkul (sejenis Parang) melekat di tubuhnya. Sekalipun demikian, penampilannya tetap berbeda dari biasanya, di pinggangnya terselip keris Keris Mangku Negoro.

Di lain cerita, awal mula Kiai Badrudin berperang di Surabaya lantaran sebelum peperangan ia mengadakan gemblengan. Pesertanya dari berbagai daerah dengan membawa senjata tajam, termasuk pula bambu runcing.

Bambu runcing itu dibacakan hizib oleh Kiai Badruddin. Atas izin Allah, bambu itu mengeluarkan pijaran api dan kesaktian Kiai Badruddin terdengar ke segala penjuru. Sebab itulah pemerintah Indonesia mencarinya supaya ikut berperang di Surabaya.

Kiai Badruddin berangkat ke Surabaya diiringi oleh pekikan takbir dan shalawat para keluarga, santri, dan masyarakat sekitar. Pertempuran yang berlangsung kurang lebih 15 hari itu dimenangkan pasukan Indonesia dan memukul mundur Belanda.

Dalam peperangan tersebut, Kiai Badrudin menaburkan garam dan pasir. Pasir yang ditaburkan kepada panjajah tersebut membuat matanya tidak bisa melihat dengan sempurna. Ketika pejuang Indonesia hendak pulang ke daerah masing-masing, Kiai Badrudin dibuntuti oleh Belanda untuk dijadikan target serangan.

Pasukan Belanda pun ingin menghancurkan wilayah Jajar. Bahkan, beberapa kali Belanda menjatuhkan bom dari udara di daerah Jajar Durenan Trenggalek, namun selalu tidak berhasil dan bahkan suara ledakan pun tidak terdengar.

Pentolan Belanda yang mengetahui hal itu geram dan bersumpah akan menangkap Kiai Badrudin, hidup ataupun mati. Berangkatlah pimpinan pasukan Belanda itu ke Jajar, namun saat bertemu Kiai Badrudin hal yang diniatkan semula urung dilakukan. Pimpinan Belanda itu tubuhnya lemas dan gemetar usai bersalaman dengan Kiai Badrudin, sehingga akhirnya meminta ampun dan menyerah.

Atas kejadian itu, penjajah Belanda berjanji tidak akan mengganggu ketenangan penduduk Jajar. Selama singgah di Jajar, Belanda membuat sebuah dam sungai yang menghubungkan Dusun Jajar dengan Dusun Bakalan. Hingga sekarang, dam tersebut masih berfungsi dan dikenal dengan Dam Londo.

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya