JAKARTA - Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan tokoh yang ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Ia adalah raja dari kesultanan Yogyakarta.
Ia juga dikenal sebagai orang yang hidup di dua dunia. Dalam dunia yang pertama ia adalah raja yang hidup di Keraton. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sedari kecil sudah hidup berdampingan dengan tradisi dan adat yang ada.
Bahkan dia masih menjalankan berbagai larangan yang berlaku. Hal ini hanya bisa dimengerti melalui jalan mistik dan hubungan dengan leluhur.
BACA JUGA:
Di dunia yang kedua ia adalah seorang yang memiliki pikiran progresif. Pendidikan barat yang ia tempuh membuat pikirannya menjadi terbuka terhadap hal dan gagasan yang baru. Hal ini terbukti dari berbagai macam bentuk pembaharuan sejak ia naik takhta.
Pada masa pemerintahannya, ia mulai menghapus Pengadilan Darah Dalem dan diganti dengan proses pengadilan biasa. Ia juga mempraktikan demokratisasi melalui pemberian otonomi di kabupaten seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta sejak akhir zaman pendudukan Jepang. Hal inilah yang membuktikan bahwa dirinya merupakan seorang yang memiliki pikiran terbuka.
BACA JUGA:
Namun, masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono tidaklah mudah. Saat sebelum ia naik takhta ia melewati masa terberat dalam hidupnya. Hal ini terjadi saat ia merundingkan kontrak kerjanya bersama Gubernur Adam.
Di tengah kebingungan dan ketakutan yang ia alami, ia mendapatkan bisikan gaib dari nenek moyangnya. Bisikan inilah yang menjadi sikap dasar Sultan dalam menghadapi perkembangan keadaan yang ada.
Dikutip dalam buku yang berjudul “Tahta Untuk Rakyat : Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX”, Sultan Hamengku Buwono berkata bahwa bisikan itu adalah sumber dasar yang membuat ia yakin dan percaya akan petunjuk dari nenek moyangnya.
"Wisik itu adalah sumber dasar bagi saya! Saya yakin dan percaya penuh bahwa petunjuk dari nenek moyang saya itu benar dan harus saya ikuti. Maka oleh karena itu, orang akan mengerti sikap saya selama seluruh zaman Jepang dan lahirnya Republik Indonesia," katanya dengan tegas.
Penulis: Amelia Hermawan
(Nanda Aria)