JAKARTA - Pada 17 Agustus 1964, Presiden Sukarno memberikan ultimatum kepada Kodam XIV/Hasanudin untuk menangkap Kahar Muzakkar, baik hidup atau mati. Pemimpin gerakan DI/TII Sulawesi Selatan ini diperkirakan berada di bagian tenggara. Informasi ini didapat dari hasil pertempuran melawan anak buahnya di Rauta, sekitar Danau Towuti. Setelah berhasil menangkap Andi Selle, Pangdam XIV/Hasanudin selanjutnya menargetkan Kahar Muzakkar melalui operasi kilat.
Resimen Pasukan Komando Angkatan Daran (RPKAD) yang merupakan cikal bakal Kopassus, pada tahun itu juga mendapat penugasan di bawah Batalyon Infanteri (Yonif) 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S. Memet untuk membantu Kodam Hasanudin yang dipimpin Kolonel M. Jusuf. Adapun pengepungan Kahar dipimpin oleh Kolonel Solichin G. P, seorang perwira senior dari Siliwangi yang bertugas sebagai Staf Operasi Kilat. Mereka mengepung tempat persembunyian Kahar di hutan dekat Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara.
3 Alumni Akmil 1990 yang Sukses Jadi Jenderal, Ada yang Jadi Danjen Kopassus
RKPAD mendapat tugas untuk berjaga di bagian selatan yang berada di atas gunung, sedangkan pasukan Kujang I berjaga di sisi lautan. Untuk menambah motivasi para prajurit, dibuat perjanian bahwa pasukan yang terlibat dan berhasil menangkap Kahar akan pulang naik pesawat.
Semua pasukan yang terlibat Operasi Kilat saat itu sudah mengepung semua tempat persembunyian Kahar, mulai dari atas gunung, hingga di bagian bawah dekat sungai. Setelah merasa terkepung di dekat Sungai Lasolo, Kahar Muzakar berpindah persembunyian ke atas gunung, tempat RKPAD berjaga dan RKPAD diminta untuk menunggu agar Kahar tidak berpindah persembunyian lagi.
3 Jenderal yang Hidup Sederhana, Nomor 1 Anak Legenda Kopassus Penumpas PKI
Walaupun sebenarnya sudah diketahui bahwa Kahar Muzakar berencana untuk menyebrang sungai menggunakan rakit, ada anggota yang menyarankan untuk masuk ke persembunyiannya. Namun, perintah RPKAD adalah hanya menunggu dan menutup akses keluar Kahar.
Tepat pukul 04.00 subuh, Pasukan Kijang I bergerak melakukan penyusupan dengan senyap tanpa diketahui lawan. Hingga pada pukul 06.30, penyergapan dilakukan. Musuh tidak memiliki kesempatan untuk kabur. Setelah tembakan demi tembakan dilepaskan, terlihat seseorang berusaha kabur ke arah utara. Kopral III Sadeli menarik pelatuk dan melayangkan peluru ke dada Kahar, pada saat itu juga Kahar Muzakar dinyatakan tewas.
Walaupun Kahar Muzakar berhasil diamankan, pimpinan RPKAD geram pasukan Kujang I lantaran bergerak sendiri tanpa mendengarkan perintah untuk menunggu. Padahal RPKAD bisa saja masuk dan menangkap Kahar apabila mengacuhkan perintah. Untuk meredakan keributan, Pimpinan TNI AD memutuskan bahwa Kahar tewas di tangan personel Yonif 330. Akhirnya, RKPAD pun pulang dengan pesawat.
(Qur'anul Hidayat)