JIKA diperhatikan, di Indonesia banyak nama jalan atau gedung yang diambil dari nama-nama pahlawan atau tokoh yang berpengaruh di Indonesia. Tidak sedikit juga nama tokoh-tokoh besar yang berasal dari Semarang digunakan untuk nama jalan dan gedung.
Nama-nama tersebut memang terdengar tidak asing, tetapi mungkin masih banyak yang belum tahu mengenai siapa dan kontribusi apa yang sudah tokoh-tokoh tersebut lakukan untuk Indonesia. Berikut ini tokoh asal Semarang yang namanya digunakan untuk nama jalan atau gedung.
1. Cipto Mangunkusumo
Nama Cipto Mangunkusumo digunakan sebagai nama rumah sakit rujukan nasional di Jakarta Pusat, yakni Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Selain itu, terdapat pula jalan yang dinamai Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, seperti di Cirebon, Samarinda, serta di Kota Tangerang, Banten.
Tokoh pergerakan kemerdekaan yang lahir di Pecangaan, Jepara, Karesidenan Semarang pada 4 Maret 1886 ini adalah dokter lulusan STOVIA. Namun, Cipto memilih berkiprah di dunia politik sesuai panggilan jiwanya. Bersama Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat, Cipto Mangunkusumo adalah pendiri Indische Partij, yang merupakan gerakan politik untuk seluruh rakyat Hindia Belanda. Karena artikel yang mereka tulis, Tiga Serangkai itu dibuang ke Belanda pada 1913 lantaran dinilai membahayakan. Cipto wafat di Jakarta, 8 Maret 1943.
Pada 1964, namanya diresmikan sebagai nama rumah sakit, yang semula bernama Central Burgelijke Ziekenhuis (CBZ). Atas jasanya, Cipto Mangunkusumo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
2. Soemantri Brodjonegoro
Tokoh dari Semarang selanjutnya adalah R.M. Soemantri Brodjonegoro. Ia diangkat sebagai Rektor Universitas Indonesia pada tahun 1964, saat usianya 38 tahun. Namanya dipakai untuk sebuah GOR yang terletak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan yaitu GOR Soemantri. Selain menjadi nama gelanggang olahraga, nama Soemantri Brodjonegoro juga ditemukan sebagai nama jalan di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandar Lampung.
Pria kelahiran Semarang, 3 Juni 1926 ini berkontribusi dalam lembaga eksekutif diawali dengan menjabat sebagai Menteri Pertambangan dalam Kabinet Ampera tahun 1967. Kemudian, ia menjadi Menteri Pertambangan dalam Kabinet Pembangunan I dan Kabinet Pembangunan II, serta pernah juga menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1973.
3. Ainun Habibie
Hasri Ainun Besari atau yang akrab dikenal dengan Ainun Habibie merupakan istri BJ Habibie, Presiden RI ke-3. Ia lahir di Semarang pada 11 Agustus 1937. Semasa hidupnya, Ainun sangat perhatian pada pendidikan, sehingga ia mendirikan sebuah yayasan yang menyalurkan beasiswa bagi pelajar di Indonesia. Yayasan tersebut kini bernama Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit Hasri Ainun Habibie.
Tak hanya itu, nama Ainun Habibie juga diabadikan menjadi nama klinik mata di Bogor, yaitu Klinik Mata dr Hasri Ainun Habibie. Sementara, di Parepare yang merupakan kota kelahiran Habibie, nama Ainun Habibie tersemat sebagai nama rumah sakit yakni RS Regional dr Hasri Ainun Habibie.
Terdapat pula sebuah gedung yang namanya diambil dari nama Ainun Habibie, yaitu Balai Ainun Habibie. Berlokasi di Jalan Alwi Abdul Jalil Habibie, Parepare, gedung berlantai tiga ini merupakan pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat.
(Angkasa Yudhistira)