LONDON – Raja Inggris Charles III akan dinobatkan pada 6 Mei 2023 dalam sebuah upacara yang akan menarik banyak perhatian. Meski acara penobatan baru akan digelar akhir pekan ini, Raja Charles sebenarnya telah menjalankan pekerjaannya sebagai Raja Inggris sejak ibunya, Ratu Elizabeth II meninggal dunia pada September tahun lalu.
Lantas apa saja pekerjaan seorang Raja Inggris dan mengapa mereka mendapatkan dukungan dari uang pajak rakyat Inggris, meski negara itu tidak lagi merupakan sebuah monarki. Berikut penjelasannya.
Inggris saat ini adalah sebuah negara monarki konstitusional, sehingga seorang raja tidak memiliki kekuasaan untuk membuat undang-undang. Tugas itu kini merupakan kewenangan dari parlemen Inggris.
Menurut laman resmi keluarga kerajaan Raja Charles akan menjabat sebagai kepala negara (head of state) dan pemimpin bangsa (head of nation) dalam peran barunya. Peran ini terdiri dari tanggung jawab formal dan simbolik.
Kedua gelar itu terdengar serupa, setidaknya dalam bahasa Inggris, tetapi Raja Charles akan menjalankan peran yang berbeda terkait kedua jabatan tersebut.
Laman resmi keluarga kerajaan mendefinisikan kepala negara sebagai peran yang berkaitan dengan "tugas konstitusional dan representasional monarki Inggris, yang telah berkembang lebih dari seribu tahun sejarah".
Sebagai kepala negara, raja membuka setiap sesi parlemen baru dan menyetujui perintah dan proklamasi melalui Dewan Penasihat. Raja juga memberikan Royal Assent, yang secara resmi membuat rancangan undang-undang menjadi undang-undang.
Raja bersikap netral dalam masalah politik dan biasanya tidak memilih atau mencalonkan diri selama pemilihan umum.
Secara historis, raja sebagai kepala negara juga memiliki hubungan dekat dengan perdana menteri Inggris, dan bertemu dengan pimpinan pemerintahan itu secara teratur. Raja Charles telah mengambil alih tugas kepala negara ini saat dia melakukan pertemuan formal pertamanya dengan perdana menteri Inggris saat itu, Liz Truss, pada 9 September, setelah Ratu Elizabeth II meninggal dunia.
Raja juga memainkan peran serupa dalam pemerintahan Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, menurut laman keluarga kerajaan.
Sebagai pemimpin bangsa, Raja Charles pada dasarnya berfungsi sebagai wajah Inggris Raya. Raja mewujudkan semangat monarki dan melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk keterlibatan atas nama Persemakmuran.
Anggota senior keluarga kerajaan mendukung raja dalam tugas mereka, seperti halnya institusi, yang terdiri dari ratusan orang yang menjalankan keluarga kerajaan, dari pewaris takhta hingga sekretaris komunikasi. Sebagai pewaris takhta, Pangeran Wales yang baru akan bekerja sama dengan ayahnya di tahun-tahun mendatang.
Menurut BBC, Keluarga kerajaan menerima sejumlah uang yang disebut Sovereign Grant (dana penguasa) setiap tahun yang dibayarkan oleh pembayar pajak Inggris melalui departemen keuangan.
Sovereign Grant ini membiayai perjalanan resmi keluarga kerajaan, pemeliharaan banyak rumah mereka, dan gaji pegawai kerajaan, sebagaimana tercantum dalam catatan keuangan keluarga kerajaan.
Insider melaporkan, keluarga kerajaan mendapatkan dana ini sebagai ganti menyerahkan semua keuntungan dari Crown Estate - portofolio properti keluarga yang sangat besar - kepada pemerintah. Setiap tahun, raja yang berkuasa, saat ini Raja Charles, diberikan sejumlah uang yang setara dengan 25 persen dari keuntungan Crown Estate.
Total inti Sovereign Grant adalah USD58 juta untuk tahun keuangan 2021-2022, menurut catatan keuangan keluarga kerajaan.
Meskipun Sovereign Grant membayar sebagian besar kehidupan keluarga kerajaan, monarki juga memiliki pendapatan pribadi melalui jalur non-pembayar pajak.
Jika monarki Inggris dihapuskan maka Raja Charles tidak lagi dapat tinggal di Istana Buckingham karena merupakan bagian dari Crown Estate. Meski begitu, keluarga kerajaan secara pribadi memiliki properti yang akan menjadi miliknya terlepas apakah dia menjabat sebagai raja atau bukan.
(Rahman Asmardika)