Mengenal Sejarah dan Latar Belakang Gedung Pancasila

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis
Kamis 01 Juni 2023 09:27 WIB
Gedung Pancasila (Foto:Kemenlu)
Share :

JAKARTA - Mengenal sejarah dan latar belakang Gedung Pancasila memang menarik.Bagaimana tidak, gedung yang telah ada sejak zaman dahulu ini kerap kali digunakan sebagai tempat pelaksanaan acara kenegaraan maupun internasional.

Salah satunya sebagai tempat acara jamuan makan pagi atau Foreign Policy Breakfast, mengundang para pemimpin dan tokoh dari kelompok-kelompok masyarakat untuk mendiskusikan kebijakan luar negeri dan masalah-masalah hubungan internasional.

- Mengenal Sejarah dan Latar Belakang Gedung Pancasila

1. Sejarah

Melansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, gedung satu ini dulunya dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Gedung Pancasila sendiri dulu adalah Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad).

Menurut beberapa literatur menunjukkan bahwa pembangunan gedung ii dilaksanakan kira-kira pada tahun 1830. Gedung yang dibangun di Taman Hertog ini mulanya diperuntukkan sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal.

Sebagai gedung yang cukup luas, gedung bekas kediaman Panglima itu oleh Belanda mungkin dipandang cukup memadai untuk tempat persidangan Volksraad. Alhasil gedung tersebut diresmikan sebagai Gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.

Menurut katalog Pameran Peringatan Hari Ulang Tahun ke-300 Kota Batavia yang diselenggarakan di museum di Amsterdam pada bulan Juni dan Juli 1919, terdapat catatan bahwa Volksraad pernah digunakan juga sebagai tempat pertemuan para anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda (Raad van Indie).

2. Latar Belakang Gedung Pancasila

Dalam menghadapi serangan Tentara Jepang ke-16 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Imamura, pertahanan Belanda terdesak dan akhirnya Panglima Angkatan Bersenjata Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten atas Tentara Sekutu di Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942.

Pada 1943, Pemerintah Militer Jepang di Indonesia lalu membentuk badan Tyuuoo Sangi-In yaitu Badan Pertimbangan Pusat di Jakarta. Badan ini bertugas mengajukan usulan kepada pemerintah dan menjawab pertanyaan pemerintah terkait politik dan memberikan pertimbangan tentang tindakan apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Militer Jepang.

Tyuuoo Sangi-In diketahui melakukan sidang di bekas Gedung Volksaard. Di sidang pertama yang berlangsung pada tanggal 16-20 Oktober 1943 menghasilkan 4 Komisi yang bertugas untuk menjawab pertanyaan Saiko Syikikan (Penguasa Tertinggi Pemerintah Militer Jepang) tentang cara bagaimana mencapai kemenangan dalam Perang Pasifik.

Jepang mengalami kemunduran dari seluruh garis pertahanannya di Pasifik. Oleh sebab itu, pada tanggal 1 Maret 1945 Saiko Syikikan mengumumkan pembentukan Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).

Tujuan dibentuknya BPUPK agar rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Jepang, meski kedudukan militer Jepang di front Pasifik sudah goyah. Upacara pembukaan badan ini dilakukan pada 28 Mei 1945 di bekas gedung Volksraad.

Sementara, sidang BPUPK diadakan dari tanggal 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945 dan dilanjutkan mulai tanggal 10-17 Juli 1945 bertempat di gedung yang sama.

Badan yang diketuai oleh Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, dibantu dua Wakil Ketua yaitu seorang Jepang bernama Yoshido Ichibangse dan R.P.Soeroso ini dalam sidang pertama membahas tentang dasar negara Indonesia. Ini pada hakekatnya memberi peluang dan kesempatan kepada para anggota untuk menghindari kemauan pihak Jepang yang meminta BPUPK mengadakan persiapan-persiapan secara terperinci lebih dahulu.

Tepat di hari terakhir, pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menjawab pertanyaan tersebut. Ia menjawab dengan lima sila yang diusulkan untuk dijadikan Dasar Negara Indonesia Merdeka.

Kelima Sila tersebut antara lain: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat yang turut hadir menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi "Lahirnya Pancasila,". Dari situlah nama gedung Pancasila berasal.

(RIN)

 

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya