JAKARTA - Sungai Batanghari di Nagari Sungai Dareh Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, menjadi saksi sejarah kedatangan rombongan Mr Syafruddin Prawira Negara. Peristiwa itu terjadi pada 31 Desember 1948.
Kedatangan rombongan itu awalnya tidak diketahui. Sebab, saat itu agresi Belanda II tengah panas-panasnya. Mata-mata siaga di penjuru wilayah. Bahkan siapa saja bisa jadi mata-mata.
Belanda yang tidak ingin Indonesia lepas. Lalu mereka berupaya menghapus Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), denyut nadi terakhir dari sebuah bangsa yang pernah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, kembali diamuk agresi Belanda pada 19 Desember 1948.
Indonesia nyaris musnah dari peradaban dunia saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta ditangkap di Yogyakarta dalam agresi itu. Beruntung Bung Besar masih sempat memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegar.
BACA JUGA:
Dalam mandat itu, Syafruddin yang tengah berada di Sumatra diminta membuat pemerintahan darurat.
Konon, mandat itu tidak pernah diterima oleh Syafruddin. Namun ia bersama pejuang di Sumatera Tengah saat itu berinisiatif untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Secara kebetulan, hal itu sejalan dengan keinginan Soekarno.
Pada 22 Desember 1948, PDRI dengan Ketua Syafruddin Prawiranegara berhasil didirikan di Bukittinggi dan diumumkan melalui siaran radio milik AURI.
Sejak itu rombongan Syafruddin Prawiranegara menjadi pihak yang paling dicari Belanda. Sebab, Belanda berambisi menumpas Indonesia. Ancamana itu membuat Syafruddin bersama para pejuang selalu berpindah-pindah tempat secara rahasia.
Sejarawan Universitas Andalas (Unand) Padang, Wanofri Samri, mengatakan rombongan Syafruddin Prawiranegara tiba di Sungai Dareh malam menjelang tahun baru 1 Januari 1949.
Rombongan baru selesai bergerilya mulai dari Bukitinggi ke Halaban, kemudian ke Bangkinang dan ke Taratak Buluh, Lipat Kain terus ke Kiliran Jao dan kemudian sampai ke Sungai Dareh.
Ikut bersama rombongan Tengku Moh Hasan yang saat itu didapuk menjadi Wakil Ketua PDRI. Ikut juga Mr Lukman Hakim yang dalam kabinet PDRI dipercaya menjabat Menteri Keuangan sekaligus Menteri Kehakiman PDRI.
Rombongan sempat berhenti selama empat hari di Sungai Dareh. Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan menyebut para tokoh PDRI tinggal di Pesangrahan selama empat hari.
BACA JUGA:
Saat ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan digunakan sebagai salah satu Kantor Dinas Sosial Dharmasraya.
Para pejuang dari AURI di bawah pimpinan Tamimi juga sempat mengudara menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Siaran yang membuat Belanda murka. Mereka juga sempat mengumpulkan masyarakat dan mengumumkan bahwa Indonesia masih ada selama PDRI berdiri.
Namun sayang, jejak rombongan Syafruddin Prawiranegara tercium Belanda. Hal itu membuat rombongan kembali berpindah pada 3 Januari 1949. Kala itu, Bidar Alam, Solok Selatan, dinilai menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk melanjutkan perjuangan.
Perjalanan ke Bidar Alam dilanjutkan dengan membagi tiga rombongan. Syafruddin memimpin pelarian lewat aliran Sungai Batanghari yang hingga saat ini masih setia mengalirkan airnya.
Sementara Tengku Moh. Hasan memilih lewat jalur darat. Ia khawatir terjadi kecelakaan di sungai hingga satu-satunya radio yang mereka miliki rusak atau hilang. Sementara Lukman Hakim disebut memutar jalan lewat Muaro Bungo. Tiga rombongan itu sama-sama berhasil sampai di Bidar Alam.