WARUNG Angkringan di pinggiran kota Tangerang Selatan malam itu begitu tenang. Pukul sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam.
Masih ada beberapa orang yang nongkrong sambil menyeruput minuman jahe atau jahe susu. Saya tetap pada selera awal, es teh.
Tak disangka obrolan ngalor ngidul itu tertuju pada cerita mengenai anak-anak zaman now yang sangat berani saat membuat konten untuk media sosialnya. Mereka sudah seperti pahlawan yang berani mati untuk merebut kemerdekaan.
Mereka seperti tidak berpikir panjang. Tidak terpikir sama sekali berbagai risiko yang bakal terjadi ketika mereka membuat konten video untuk diviralkan di media sosial.
Banyak contoh sudah diwartakan media mainstream. Misalnya saja ada anak yang harus tertabrak truk ketika tiba-tiba dia menyetop truk itu saat membuat konten. Ada juga cerita di mancanegara seorang selebgram harus terjatuh dari bangunan bertingkat pada saat sesi pembuatan konten.
Cerita seorang gadis yang terseret ombak di sebuah pantai di Kebumen juga tidak kalah dramatisnya. Atau cerita seorang konten kreator yang harus mengalami kecelakaan dan meninggal, ketika mengendarai sepeda motor sambil live di platform media sosial. Itulah sedikit contoh betapa anak-anak muda belia itu seolah tidak kenal takut dan sangat berani menanggung risiko.
Diskusi di warung angkringan makin seru. Salah satu teman berseloroh, anak-anak ini sudah begitu addict dengan dunia media sosial. Mereka seakan hero ketika kontennya bisa live di platform media sosial dan mendapat beragam respons dari teman-teman mereka.
Bisa jadi, anak-anak ini akan merasa senang dan bangga jika kontennya ditonton oleh banyak sekali netizen apalagi jika like dan komentar positif begitu dominan. Mungkin ini kah yang dinamakan simulakra atau realitas semu ala pemikiran hiperalitas dari Jean Baudrillard.
Jika mengacu ke konsep addict, maka bisa jadi anak-anak itu kehilangan kesadaran alias kecanduan untuk membuat konten. Titik masalahnya adalah, mereka ini harus menerjang bahaya dan risiko tinggi ketika membuat konten. Kadangkala mereka kehilangan rasionalitasnya.
Diskusi kemudian meredup dan kembali pada rasionalitas orang-orang tua, karena satu kawan lain berseloroh: "Yah namanya anak muda, mereka punya dunianya sendiri. Kadang kala kita hanya bisa mengawasi dan memberikan nasihat. Tapi, nasihat kita pun bisa jadi dianggap jadul, karena dunia masa lalu dengan dunia masa kini sudah berubah."