2. Soekarno sebut sepak bola pembentukan nasionalisme
Selain Asian Games, Indonesia juga menggelar Ganefo (Games of The New Emerging Forces), di mana kegiatan tersebut juga berpusat di stadion GBK. Saat itu, stadion GBK menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.
Sementara sepak bola merupakan simbol persatuan. Soekarno menggelorakan pentingnya sepak bola sebagai panggung serta alat perjuangan politik. Soekarno meyakini olahraga serta sepak bola menjadi pembentukan serta penerapan nasionalisme olahragawan, di mana olahragawan merepresentasikan wakil negara.
3. Perkuat hubungan diplomatik dengan negara lain
Dalam Kongres PSSI pada 14-16 Mei 1932, secara resmi PSSI menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi organisasi. Hal ini yang membuat Soekarno semakin percaya sepak bola merupakan salah satu wadah guna mengampanyekan persatuan. Melalui sepak bola pula, Soekarno menguatkan hubungan diplomatik dengan negara lain.
Hal ini tampak ketika Indonesia mendatangkan pelatih dari Yugoslavia, Antun Pogacnik atau dikenal dengan pula dengan nama Toni Pogacnik, pada 1953.
Hal ini tentu menguatkan hubungan diplomatik serta sikap politik Soekarno dengan pemimpin Yugoslavia, Josep Broz Tito. Pada 1954, Toni Pogacknik resmi menjadi pelatih sepak bola bagi timnas Indonesia.
(Rahman Asmardika)