Momen Raja Mataram Mengungsi Akibat Pemberontakan Berdarah

Avirista Midaada, Jurnalis
Minggu 25 Juni 2023 10:55 WIB
Perang Kerajaan (foto: dok ist)
Share :

Rombongan baru sampai ke sebuah desa bernama Guger, yang sama-sama tidak ketahui letaknya kini, pada pukul 6 sore. Citrodiwiryo yang saat itu berlaku sebagai penguasa Magetan dengan seluruh rakyatnya menerima dan membantu Raja Mataram dalam pengasingannya ini.

Namun demikian, Guger tidak masuk dalam kekuasaannya, sebab terletak di wilayah Madiun, bukan Maospati/Magetan, sehingga pasukan harus melanjutkan perjalanan kembali selama 5,5 jam. Perjalanan ini membawa pasukan ke sebuah wilayah desa bernama Pancot, yang terkenal di wilayah Mangkunegaran.

Magetan kemudian baru dapat dicapai pada 3 Juli 1742. Di Magetan, terdapat sekitar ratus orang Tionghoa yang berasal dari "Negeri Awi" (kemungkinan besar yang dimaksud adalah Ngawi). Di samping itu, Bupati Wedana Madiun Martoloyo dan Deputinya Sumowijoyo, bersama sebagian rakyatnya kemudian bergabung dengan Sanan Mataram. Kesetiaan itu dihargai dengan baik sehingga Martoloyo diberi gelar pangeran.

Pada 5 Juli 1742, pukul 7 pagi rombongan berangkat dari Magetan dan setelah menempuh perjalanan selama 9 jam dan melalui jalan sepanjang 25 kilometer, mereka tiba di Madiun pada pukul 4 sore. Tumenggung Surobroto dan penguasa Caruban yang kami sebut tadi (Jayengrono II) kemudian menghadap raja.

Audiensi ini menghasilkan tawaran Tumenggung Surobroto untuk membawa sang raja ke Ponorogo. Pada Minggu, 8 Juli 1742, pukul 7 pagi, perjalanan rombongan kerajaan berlanjut le Ponorogo. Di tengah perjalanan ini, tepat pukul 12 siang, rombongan beristirahat di tengah hutan.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya