BANDUNG - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6.2 terjadi di koordinat 140,25°BT dan 3,71° LS, berjarak sekitar 69 km barat daya Kabupaten Keerom pada kedalaman 33 km, pukul 09.51 WIB, Senin (3/7/2023). Badan Geologi memperkirakan, gempa tersebut terjadi akibat pergeseran sesar di kawasan tersebut.
Kepala Badan Geologi Sugeng Mujiyanto mengatakan, Kabupaten Keerom yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempa bumi tersusun oleh morfologi dataran hingga dataran bergelombang. Sementara pada bagian selatan hingga barat daya merupakan perbukitan bergelombang hingga terjal.
Wilayah ini pada umumnya tersusun oleh tanah keras (kelas C) dan sebagian lainnya tersusun oleh tanah sedang (kelas D) dan tanah lunak (kelas E).
BACA JUGA:
"Batuan penyusun wilayah ini adalah batuan berumur Pra Tersier berupa batuan metamorf, batuan berumur Tersier (batuan sedimen, batugamping), dan endapan Kuarter berupa endapan sungai dan endapan rawa. Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan," kata dia.
Endapan Kuarter, batuan berumur Pra Tersier dan tersier yang telah mengalami pelapukan pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.
Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG, maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme sesar mendatar. Menurut data Badan Geologi struktur geologi di sekitar lokasi pusat gempa bumi pada umumnya adalah sesar naik.
BACA JUGA:
"Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari petugas BPBD setempat, tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, jangan terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi," jelas dia.
Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman sesuai dengan arahan dari BPBD setempat. Bangunan di Kabupaten Keerom harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan guncangan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.
Oleh karena wilayah Kabupaten Keerom tergolong rawan bencana gempa bumi, maka harus ditingkatkan upaya mitigasi bencana gempa bumi melalui mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.
"Kejadian gempa bumi ini diperkirakan dapat berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) seperti retakan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi dalam dimensi kecil, " katanya.
(Qur'anul Hidayat)