Di awal datang, para pimpinan PKI begitu dihormati. Setiap ada perjamuan, penduduk tak pernah lupa membawakan oleh-oleh makanan. Sambutan hangat itu membuat para pimpinan PKI lupa diri. Mereka malah membuat jarak dengan rakyat. Mereka tidak membaur dengan warga desa. Tidak makan bersama, tidak tinggal bersama, tidak bekerja bersama.
"Mereka cenderung bersifat sebagai atasan yang perlu menerima pelayanan istimewa, bagaikan raja-raja kecil di desa-desa,” begitu kutipan buku tersebut.
Para pimpinan PKI juga memperlihatkan tabiat sebagai warga kota. Kebiasaan hidup borjuis di kota diperlihatkan di Blitar Selatan. Meskipun tinggal di desa-desa, beberapa kader masih ingin memperoleh makanan dan rokok dari kota.
Melalui kurir-kurir, mereka membeli barang-barang keperluan dari kota. Seperti rokok. Tanpa disadari, sampah-sampah bungkusan makanan dan barang-barang dari kota itu menarik perhatian para petugas keamanan negara. Dari penyelidikan diketahui bahwa barang-barang itu tidak mungkin milik warga desa.
"Ini mempermudah pasukan penumpas untuk mengetahui di mana para tokoh PKI bersembunyi dan di mana basis koordinasi gerakan bersenjata dilakukan," tulis Siauw Giok Tjhan.