Tribhuwana maupun sang pangeran berpengalaman dan punya kepercayaan diri dalam mengulangi kemitraan yang pernah dinikmati kedua orangtuanya. Sementara itu, Gayatri sama sekali tak berniat menikah lagi.
Sebagai penganut Buddhis, ia tidak percaya pada ajaran Hindu bahwa para janda berkasta bangsawan harus terjun ke dalam api pembakaran jasad suaminya, namun ia meyakini bahwa mereka pantas undur diri dari kehidupan duniawi.
Kelak, Gayatri ingin memangkas rambutnya dan menjadi bhikuni Buddhis. Dengan demikian, meskipun tak lagi terlibat dalam kehidupan publik, ia tetap bisa diam-diam membantu putrinya serta cucu-cucunya menjalankan pemerintahan.
(Qur'anul Hidayat)