Ramalan Jayabaya ini kemudian digubah oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873), pujangga besar keraton Solo.
Salah satu ramalan yang ditulis adalah datangnya jaman Kolobendu yang secara “Condrosengkolo” datang pada 1997 dan berakhir dengan jaman Kolosubo 2025.
Jaman kolobendu ini digambarkan akan terjadi pertentangan dan permusuhan diantara komponen bangsa, yang disebabkan oleh adu domba oleh “dalang” yang tidak kelihatan, karena berada di belakang layar.
Jaman Kolobendu ;
"Entenono Nuswantoro bakal ketampan bendu
Yen wis teko pandito ambuka wiwaranging Neroko
(Condro sengkolo 1997)
Pralambange jago tarung ning njero kurungan
Dalang wayang ngungkurke kelir
Sing nonton podo nangis
Entenono waluyo lan tentreme
Mengko nek wis tumeko
Pendowo Mulat Sirnaning Penganten (Condro sengkolo 2025)" -Buku Jaman Kolobendu (Ronggowarsito).
Artinya : Jaman Kolobendu (Carut Marut).
"Tunggulah, nusantara akan mendapatkan bencana.
Jika sudah datang tahun 1997
Perlambangnya adalah Ayam jantan Bertarung di dalam kurungannya.
Sang dalang menggelar sandiwara.
Yang menonton menangis.
Tunggulah jaman kemakmuran dan ketentraman.
Nanti jika sudah datang
Tahun 2025".
Masud menerangkan bahwa Nusantara akan mendapat bebendu atau bencana. Jika sudah datang tahun 1997 ( Pandito Ambuko Wiwaraning Neroko). Pandito, Ambuko = dibuka=bolong= 9, Wiwara = pintu=terbuka= bolong-9, Neroko = 1. Artinya : Condro Sengkolo Tahun 1997.