KULONPROGO - Lubang misterius yang tiba-tiba muncul di Kulonprogo diteliti tim geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Penelitian terhadap sinkhole atau lubang yang muncul tiba-tiba di Dusun Popohan, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo masih terus dilakukan. Dalam prosesnya, ditemukan sejumlah rekahan tanah di sekitar area lubang.
Temuan ini berdasarkan hasil identifikasi sebagai bagian awal penelitian yang dilakukan sejumlah ahli geologi dari UGM dan Undip Semarang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo.
Adapun salah satu lokasi rekahan ada di Dusun Klepu. Dusun ini berada di area perbukitan yang tak jauh dari Dusun Popohan tempat di mana sinkhole ditemukan. Sejumlah lokasi yang ditinjau, salah satunya di titik paling atas tapi lokasinya sudah beda dusun. Dan, tim di lapangan lihat langsung adanya rekahan di titik atas itu.
Selain itu, tim UGM menemukan adanya rekahan tanah di sekitar rumah warga di Dusun Popohan. Hingga kini, rekahan-rekahan tersebut masih dalam proses penelitian untuk mencari tahu apakah ada kaitannya dengan kemunculan sinkhole.
Wahyu Wilopo, Ahli Geologi UGM mengatakan, dalam penelitian lubang, pihaknya menggunakan alat georadar atau radar penembus tanah berfungsi untuk mendeteksi sinyal yang direfleksikan dari struktur bawah permukaan. Dari situ, nanti bisa diidentifikasi kondisi bawah permukaan seperti apa.
"Sehingga kita nanti akan coba membuat profil-profil di bawah permukaan berdasarkan atas hasil dari data geofisika ini. Fenomena sinkhole atau lubang misterius di Kulonprogo merupakan peristiwa yang tidak wajar. Pasalnya, sinkhole tersebut muncul di struktur batuan yang tidak mudah larut," ujarnya.
Pada umumnya, sinkhole akan muncul di lahan batuan yang mudah larut seperti jenis batuan gamping yang jamak ditemui di Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan yang terjadi di Kulonprogo, sinkhole justru muncul di lahan batuan breksi. Batuan jenis ini dikenal tidak mudah hancur sehingga kecil kemungkinan memicu terjadinya sinkhole.
Hal yang tidak biasa ini memunculkan sejumlah dugaan terkait apa sebenarnya yang memicu terjadinya sinkhole di Popohan. Salah satunya soal adanya litologi lain yang mudah larut di bawah batuan breksi lahan tersebut. Proses penelitian ini menggunakan metode survei geofisika yakni survei yang dilakukan dengan memanfaatkan medan alamiah sebagai bagian properties bumi.
"Kalau mengacu pada geologi regional memang di bawahnya breksi ini ada batu gampingnya. Tapi, kita enggak tahu apakah amblesnya ini ada di bawahnya breksi," tuturnya.
Timnya juga akan meneliti seluruh kawasan Popohan dan sekitarnya untuk mengetahui ada tidaknya fenomena serupa yang berpotensi memicu bencana. Sehingga nanti kalau terjadi ada tanda-tanda atau sebagainya itu bisa diantisipasi.
Ditargetkan proses penelitian bisa rampung sepekan lagi. Hasil penelitian selanjutnya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan setempat guna menentukan langkah mitigasi.
UGM juga akan datangkan tim lagi yang mendetailkan, mengambil gambar udara, kemudian ada pemetaan detail untuk memetakan tanah gerak di lokasi temuan lubang misterius.
Restu Bayu Permadi, Dukuh Popohan mengatakan, bahwa di dalam sinkhole tersebut terdapat rongga horizontal yang bentuknya mirip sarang rayap tapi berukuran jauh lebih besar. Temuan ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Undip Semarang beberapa waktu lalu.
Jadi, di dalam itu ada semacam lubang yang sambung menyambung seperti sarang rayap tapi ukurannya besar.
Fenomena sinkhole atau kemunculan lubang tanah secara tiba-tiba terjadi di Kapanewon Kalibawang, Kulonprogo. Lubang muncul diawali suara gemuruh pada malam hari di pekarangan rumah milik Karyo Dimejo (70) di Dusun Popohan, Kalurahan Banjararum.
Lubang ini tiba-tiba muncul usai hujan lebat mengguyur wilayah Popohan pada bulan Maret atau puasa lalu. Namun, saat itu ukurannya masih kecil semakin membesar sampai beberapa pohon yang tanam di pekarangan roboh masuk ke dalam lubang.
Lubang ini kini ukurannya sekitar 4,5 x 2 meter. Sedangkan kedalamannya mencapai belasan meter. Namun, oleh warga sebagian sudah ditutup dengan dedaunan dan juga terpal agar tak membahayakan warga.
(Arief Setyadi )