JAKARTA - Presiden Donald Trump mengancam akan membuat Iran “lenyap dari muka bumi” jika menyerang kapal-kapal Amerika Serikat (AS). Ancaman ini disampaikan Trump menyusul klaim Teheran bahwa rudal Iran telah menyerang kapal AS di dekat Selat Hormuz, mengancam runtuhnya gencatan senjata yang telah bertahan sejak 7 April.
Pada Senin (4/5/2026), ketegangan meningkat ketika Iran menyerang Uni Emirat Arab (UEA), dan Trump mengatakan militer AS menghancurkan tujuh kapal kecil Iran di dekat Hormuz. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump menggarisbawahi kekuatan militer Washington dan ia memperbarui ancamannya terhadap Iran.
“Kita memiliki lebih banyak senjata dan amunisi dengan kualitas jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” katanya, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
“Kita memiliki peralatan terbaik. Kita memiliki perlengkapan di seluruh dunia. Kita memiliki pangkalan-pangkalan ini di seluruh dunia. Semuanya dilengkapi dengan peralatan. Kita dapat menggunakan semua perlengkapan itu, dan kita akan menggunakannya jika kita membutuhkannya.”
Militer AS mulai menerapkan rencana Trump pada Senin—yang disebut Proyek Kebebasan—untuk memandu kapal-kapal melalui Hormuz dan mematahkan blokade Iran di jalur pelayaran strategis tersebut. Washington mengatakan telah membantu dua kapal dagang AS melewati selat tersebut, tetapi situs web pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas melalui jalur air tersebut sebagian besar masih terhenti.
Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), mengatakan kapal-kapal yang terdampar di daerah tersebut milik 87 negara yang merupakan “pihak yang tidak bersalah” dalam konflik tersebut.
“Selama 12 jam terakhir, kami telah menghubungi puluhan kapal dan perusahaan pelayaran untuk mendorong arus lalu lintas melalui [Selat Hormuz], sesuai dengan niat presiden untuk membantu memandu kapal dengan aman melalui koridor perdagangan yang sempit,” kata Cooper dalam sebuah pernyataan. Namun, tidak jelas bagaimana kapal-kapal tersebut menanggapi jaminan dari AS.