JAKARTA - Kebakaran terjadi di kompleks minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) menyusul serangan drone pada Senin (4/5/2026) malam, menurut kantor media Fujairah. Sementara UEA menyatakan telah mencegat rudal jelajah dan amunisi jelajah yang diluncurkan Iran.
Permusuhan yang kembali terjadi ini muncul ketika pemerintahan Trump meningkatkan upaya untuk memulai kembali pengiriman komersial melalui Selat Hormuz di tengah gencatan senjata AS-Iran yang rapuh.
Melansir Al Monitor, Selasa (5/5/2026), warga di UEA menerima beberapa peringatan darurat sepanjang hari Senin. Ini menjadi pemberitahuan pertama dalam beberapa minggu di tengah ketegangan yang kembali meningkat dalam konflik AS-Israel-Iran yang sedang berlangsung.
Peringatan ini muncul ketika Amerika Serikat (AS) meluncurkan inisiatif baru, yang disebut "Proyek Kebebasan," pada hari Senin. Proyek ini disebut bertujuan untuk memulihkan lalu lintas maritim melalui titik rawan tersebut dengan mengerahkan pengawal angkatan laut, pesawat terbang, dan ribuan personel untuk mendukung kapal komersial.
Dua kapal dagang berbendera AS telah berhasil berlayar melalui Selat Hormuz. Kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS saat ini beroperasi di Teluk setelah melintasi jalur air tersebut untuk mendukung Proyek Freedom, Komando Pusat AS mengumumkan pada Senin.
Perkembangan ini menyusul pengumuman Presiden Donald Trump pada Minggu bahwa AS akan membantu memandu kapal-kapal yang terdampar melalui jalur air tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah global.
Namun, situasi keamanan tetap tidak stabil. Pada Senin, Kementerian Luar Negeri UEA mengutuk serangan drone yang menargetkan kapal tanker yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara raksasa ADNOC saat melintasi Hormuz. UEA menyebut insiden itu sebagai "pelanggaran mencolok" hukum internasional.