Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Belum Teruji, Militer AS Ingin Gunakan Rudal Hipersonik Dark Eagle dalam Perang Iran

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 04 Mei 2026 |05:05 WIB
Belum Teruji, Militer AS Ingin Gunakan Rudal Hipersonik Dark Eagle dalam Perang Iran
Sistem rudal LRHW Amerika Serikat. (Foto: US Army)
A
A
A

JAKARTA – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah meminta agar rudal hipersonik Dark Eagle yang telah lama tertunda segera dikerahkan ke Timur Tengah, menurut laporan Bloomberg pekan ini. Laporan ini muncul di tengah isu bahwa AS kemungkinan akan kembali melanjutkan konfliknya dengan Iran, yang saat ini masih dalam status gencatan senjata.

Dark Eagle, yang juga dikenal sebagai Senjata Hipersonik Jarak Jauh (LRHW), dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan dari Rusia dan China yang telah memiliki persenjataan hipersonik. Namun, senjata yang dikembangkan sejak 2018 dengan anggaran mencapai USD 12 miliar tersebut dilaporkan jauh tertinggal dari jadwal, dan sistemnya pun belum dinyatakan sepenuhnya beroperasi.

Permintaan pengerahan LRHW didasarkan pada laporan intelijen yang menunjukkan bahwa Iran memindahkan peluncur rudal balistiknya ke luar jangkauan Rudal Serangan Presisi (PrSM). Hal ini disampaikan oleh seorang sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut kepada Bloomberg. Menurut sumber itu, hingga kini belum ada keputusan resmi yang dibuat mengenai permintaan tersebut.

Dilansir RT, PrSM, rudal balistik jarak pendek hingga menengah yang direncanakan untuk menggantikan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) yang sudah tua, sebelumnya juga telah dikerahkan melawan Iran tanpa melalui prosedur pengujian yang semestinya. Rudal balistik tersebut digunakan secara luas selama konflik berlangsung. Bahkan, seorang pejabat mengakui awal bulan ini bahwa salah satu unit Angkatan Darat AS yang dilengkapi amunisi baru tersebut telah menghabiskan seluruh persediaan PrSM-nya.

Meskipun militer AS masih memiliki beberapa unit PrSM dalam persediaan, pasokan tersebut dikhawatirkan tidak mencukupi jika konflik dengan Iran kembali memanas. Pentagon telah memesan 130 unit sebelum tahun fiskal 2024 dan 250 unit lagi pada tahun 2025, tetapi belum jelas berapa banyak amunisi yang sudah benar-benar dikirim ke lapangan.

Rudal tersebut menjadi sumber kontroversi selama serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, di mana PrSM diyakini terlibat dalam setidaknya satu insiden yang menimbulkan banyak korban jiwa. Menurut The New York Times, rudal PrSM kemungkinan besar digunakan dalam serangan 28 Februari terhadap sebuah sekolah dan aula olahraga di kota Lamerd, Iran selatan, yang menewaskan setidaknya 21 orang.

Pentagon membantah keterlibatannya dan bersikeras bahwa mereka tidak menargetkan situs mana pun di Lamerd pada hari itu. Mereka mengklaim bahwa amunisi yang terlihat dalam rekaman serangan adalah rudal jelajah Hoveyzeh buatan Iran. Namun, The New York Times kembali menegaskan penilaian awalnya awal bulan ini dengan mengutip para ahli yang menyatakan bahwa proyektil tersebut tampak identik dengan PrSM dan tidak memiliki ciri-ciri teknis buatan Iran.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement