WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) akan kesulitan mempertahankan diri dari sistem rudal canggih yang dikembangkan oleh China dan Rusia, menurut keterangan pejabat senior Departemen Perang AS kepada anggota parlemen. Pernyataan ini disampaikan Pentagon saat meminta parlemen AS menyetujui pendanaan untuk program pertahanan rudal Golden Dome yang diusulkan.
Golden Dome adalah inisiatif yang diusulkan Presiden Donald Trump tak lama setelah menjabat pada Januari 2025. Trump mengusulkan investasi besar-besaran—yang berpotensi mencapai ratusan miliar dolar selama dekade berikutnya—untuk memperluas kemampuan pertahanan udara berbasis darat dan ruang angkasa.
“Peningkatan ini sangat dibutuhkan, karena AS memiliki sistem pertahanan dalam negeri berbasis darat satu lapis yang sangat terbatas, yang dirancang khusus untuk melawan serangan kecil yang tidak terencana,” kata Asisten Menteri Perang untuk Kebijakan Ruang Angkasa, Marc Berkowitz, pada sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Senin (27/4/2026).
Dia mengatakan bahwa AS akan menghadapi masalah serius melawan rudal balistik dan “tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini,” tegasnya, sebagaimana dilansir RT.
Michael Guetlein, yang memimpin program Golden Dome di dalam Angkatan Luar Angkasa AS, bersaksi bahwa baik China maupun Rusia terus memodernisasi dan memperluas persenjataan rudal mereka. Ia menunjuk pada pengerahan kendaraan luncur hipersonik—hulu ledak yang mampu bermanuver dengan kecepatan tinggi di dalam atmosfer setelah diluncurkan—serta pengembangan rudal jelajah Burevestnik bertenaga nuklir oleh Rusia.
Menurut Guetlein, sistem-sistem tersebut “dirancang untuk menantang kemampuan pelacakan dan penargetan sensor AS” dan memastikan “kemampuan serangan yang responsif dan mampu bertahan.”
Sebelumnya, AS menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) tahun 1972 di bawah Presiden George W. Bush. Langkah ini diambil Washington untuk mengembangkan sistem rudal anti-balistik nasional.