Kisah Pengawal Soekarno yang Kerap Diumpankan Jika sang Proklamator Marah Besar

Nanda Aria, Jurnalis
Jum'at 11 Agustus 2023 06:16 WIB
Soekarno - Hatta/Foto: istimewa
Share :

 

JAKARTA - Bung Karno punya pengawal yang selalu diumpankan rekannya jika sedang marah. Ajudan Bung Besar ini merupakan salah satu pengawal yang paling setia dengan presiden pertama Indonesia itu.

Kisah ini diceritakan Guruh Sukarno Putra di buku 'Bung Karno : Bapakku, Kawanku, Guruku'. Suatu hari, Bung Karno marah besar. Delapan orang pengawal dikumpulkan lalu ditempeleng satu per satu.

 BACA JUGA:

"Saya mohon Bapak sabar dulu ...," kata Mangil, salah satu korban kemarahan.

Belum sampai habis bicara, Bung Karno membentak Mangil, "Diam!" Anggota pengawal yang baru saja menerima hadiah bogem mentah itu saling melihat satu sama lain dan semua ketawa kecil.

 BACA JUGA:

Setelah kembali ke istana, Bung Karno memanggil Mangil, dan berkata, "Mangil, kau mau tidak memaafkan Bapak? Bapak meminta maaf kepada anak buahmu. Ternyata Bapak berbuat salah kepada anak buahmu."

"Tidak apa-apa, Pak," jawab Mangil. Kemudian Bung Karno merangkul Mangil.

Belakangan diketahui,Bung Karno telah menerima laporan yang salah dari orang lain mengenai salah satu anak buah Mangil.

Biasanya, kalau Bung Karno sedang marah, tidak ada yang berani menghadap, kecuali Prihatin, salah seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.

Ketika makan bersama di Istana Tampaksiring di Bali, Bung Karno berkata, "Kamu orang itu terlalu. Kalau saya sedang marah, selalu Prihatin yang kau suruh menghadap. Dia sering saya semprot dan saya tahu dia tidak salah. "

"Saya merasa kasihan sama Prihatin. Besok kalau saya ke luar negeri, Prihatin akan saya ajak. Lha mbok kalau saya sedang marah, yang disuruh menghadap saya seorang wanita cantik dengan membawa map surat-surat yang harus saya tanda tangani, 'kan saya tidak jadi marah. Lagi-lagi Prihatin yang datang!"

Betul saja, waktu Bung Karno pergi ke Kanada, Prihatin diajak.

Selain itu, Bung Karno juga pernah marah sekali dan berkata, "Godverdomme. Saya tidak akan berangkat kalau kacamata Bapak tidak ada."

Saat itu Bung Karno hendak membaca surat dalam perjalanan dari istana ke lapangan terbang Kemayoran. Ternyata kacamatanya tertinggal di istana.

Suatu pagi Bung Karno jalan kaki mengelilingi istana. Dari arah kamar ajudan presiden, ia mendengar suara radio diputar keras.

 BACA JUGA:

Ia bertanya kepada seorang pengawalnya, "Siapa itu yang nyetel radio keras-keras?" Polisi pengawal menjawab, bahwa radio itu ada di dalam kamar ajudan.

Sang presiden masuk ke ruang ajudan itu, dan berkata, "Kunnen jullie niet leven zonder radio?" (Tidak dapatkah kalian hidup tanpa radio [keras-keras]).

Kebetulan yang ada di ruang itu Kapten Andi Jusuf, yang dijadikan umpan oleh Gandhi dan Mangil.

(Nanda Aria)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya